Muhammdiyah di Tengah
Muhammadiyah di Tengah Lautan Parpol
Oleh Shofwan Karim
2004 dan Muktamar, Malang Juli 2005, berturut-turutterkristal
abstraksi peranan warga Muhammadiyah dalam kehidupan bangsasecara
mendasar.D i situ secara substantif dikatakan bahwakewajiban dan hak
politik adalah kewajiban dan hak setiap warga negara-bangsa.Oleh
karena itu, setiap warga Muhammadiyah dapat mengaplikasikanhak-hak
perorangannya dalam poiltik kebangsaan. Tetapi Muhammadiyahsebagai
politik. Diharapkan pula warga Muhammadiyah tersebut memilihinstitusi
politik yang relevan dengan tujuan Muhammadiyah..
Di dalam perjalanan sejarah, lebih kurang 36 tahunbelakangan ini
ternyata warga Muhammadiyah selamat secara relatif danmematuhi rambu
rambu tersebut. Akan tetapi warga Muhammadiyah sebagianbesar tetap
saja, kadang kala terombang-ambing di tengah lautan partaipolitik
dalam delapan kali Pemilu (1971- 2004). Di dalam suasanademikian
tidak terpungkiri bahwa ada masalah-masalah laten maupunmanifes, di
antaranya sebagai berikut. Pertama, posisi sebagai pimpinan,aktivis
atau paling kurang sebagai anggota partai selalu dikaitkandengan
wujudnya, keberadaan atau eksistensinya sebagai wargaMuhammadiyah.
Bagi yang pro, ini dianggap keuntungan. Bagi yang kontradianggap hal
itu merugikan citra Muhmmadiyah. Kedua, tidak selalu setiaptokoh
Muhammadiyah yang duduk di Partai mencerminkan ketinggianakhlak
politik yang diamanahkan Muhammadiyah dimaksud, sehingga takjarang
menuai buah busuk bagi Muhammadiyah.
Ketiga, konflikkepentingan
partai dapat merembes ke dalam Muhammadiyah. Sekedar misal,dalam
memposisikan masing-masing kader parpol dalam kepemimpinan
Muhammadiyah, atau sebaliknya dan di luarnya. Keempat, ada
pergeseran bahkan pergesekan suka atau tidak suka bagisesama warga
Muhammadiyah. Kelima, menumbuhkan sikap ambivalen danloyalitas ganda
sehingga kadangkala kegiatan-kegiatan dalam amal usahaMuhammadiyah
ada yang terabaikan. Keenam, tentu saja pada gilirannyamuncul
polarisasi dalam pergaulan dan cara berfikir antarakeikhlasan dan
interest (kepentingan) duniawi.
Di samping masalah-masalah tadi, tentu saja ada keuntungandan
positifikasi penyentuhan warga Muhammadiyah dalam politikpraktis.
Misalnya, ada penyaluran hasrat bahwa politik adalah medandakwah
strategis untuk amar makruf nahy mungkar Hal itudikonsepsikan sebagai
subsistem dalam pengamalan Al-Alqur'an (Lihat QS, Ali Imran,3: 104,
110. Begitu pula politik dapat memperlicin jalannya kegiatanamal
usaha. Bila seorang warga Muhammadiyah duduk di elit Parpoldan
menjadi anggota legislatif atau posisi lainnya, maka dapat
memperjuangkan kepentingan amal usaha Muhamamdiyah di bidang
pendidikan, sarana ibadah, kesehatan, santunan sosial,ekonomi
produktif dan sebagainya. Lebih dari itu, tentu sajakeberhasilan di
dunia politik dapat memposisikan warga Muhammadiyah menjadielit
bangsa, menjadi terpandang di mata sesama wargaMuhammadiyah, umat
dan masyarakat-bangsa.
Di tengah arus pertarungan kekurangan dan kelebihan di atas,penulis
menawarkan hal-hal sebagai berikut . Pertama, kaum politisi
Muhammadiyah harus memilih aktivitas politik yang mendasardan mulia.
Misalnya pergumulan dalam kancah ideologi Parpolbersangkutan. Banyak
sinyalemen sekarang ini mensinyalir bahwa hal yang satu ini,kurang
diminati oleh para aktivis partai. Pada setiap partai selaluada
Plat-form yang mengandung asas, tujuan, visi dan misi sertafaham
pemikiran dan konsespsi kehidupan bangsa yang diharapkanyang
tercermin dalam AD-ART Parpol.
Di sektor ini perlu wargaMuhammadiyah
bekerja untuk partainya lebih sungguh-sungguh. Kedua, sektorpembinaan
SDM Parpol atau rekrutment dan pembinaan kader parpol dapatmenjadi
lahan politisi warga Muhammadiyah. Ketiga, jangan terjebakdalam
kepentingan sesaat. Artinya, bila tidak mendapat posisi yangbaik dan
meyakinkan di satu Parpol, lalu hengkang ke Parpol lain. Halitu akan
membuat citra politisi warga Muhammadiyah luntur danperilaku demikian
dapat dianggap sebagai repleksi kelemahan dalam bertarungatau
berkompetisi dengan pihak lain. Keempat, jangan terjebakdalam
loyalitas ganda yang amat dalam. Anggaplah Muhammadiyahsebagai rumah
"gadang" tempat kembali bila di Parpol sudah tidakmungkin lagi aktif
bagi warga Muhammadiyah; Kelima, seyogyanya perbedaan parpoltidak
mengurangi silaturrahim dan keakraban sebagai wargaMuhammadiyah dan
sesama warga-masyarakat dan ummat. Keenam, perkokoh akidahdan
tertibkan ibadah serta perluas wawasan intelektual, wawasan
silaturrahim dan komunikasi serta pergaulan sosial, sehinggabila tak
aktif lagi di Partai, kehidupan sebagai warga Muhammadiyahyang Islami
mendapatkan berkah dari Allah swt. dan tidak mengalami
post-powersyndrome alias tidak merasa "jatuahtapai"****