info@umsb.ac.id (0751) 482274

AFEB PTMA dan Daya Saing

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Rabu,02 Agustus 2023 08:59:00
Dibaca: 357 kali

Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat menjadi tuan rumah Rakernas dari Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (AFEB PTMA) se-Indonesia pada 1-2 Agustus 2023. Selain itu juga dilaksanakan International Conference on Economics and Business (ICEB) yang pertama kali digelar oleh AFEB PTMA.

Acara tersebut adalah agenda tahunan AFEB PTMA yang beranggota 59 perguruan tinggi di bawah Muhammadiyah dan Aisyiyah. ICEB adalah konferensi internasional pertama yang diselenggarakan oleh AFEB PTMA bertema ''Acceleration of Regional Economic Development for Strong and Fair National Economy'' atau ''Akselerasi Perkembangan Ekonomi Regional untuk Ekonomi Nasional yang Kuat dan Adil''.

Selaras dengan tema itu bahwa salah satunya yang relevan adalah memacu daya saing di era kekinian yang semakin mendesak. Persepsi tentang daya saing sangat penting dan faktor pengaruhnya tidaklah sederhana. Komitmen daya saing dimaksudkan mengetahui lanskap daya saing global yang selaras komitmen revolusi industri terbaru, Industri 4.0.

Meski tuntutan daya saing ketat, yang menarik dicermati yaitu komponen penilaian juga berubah dan kini memasukkan sejumlah variabel misal institusi, infrastruktur, kesiapan teknologi informasi-komunikasi, pangsa pasar, stabilitas makro ekonomi, pasar tenaga kerja, kapasitas inovasi, dinamika bisnis, sistem keuangan, kesehatan, dan keterampilan.

Kompleksitas penilaian daya saing secara tidak langsung memberikan gambaran tentang pandangan terkait kesiapan negara menatap prospek masa depan, ketertarikan terhadap modal sosial, dukungan terhadap bisnis disruptif dan ancaman terkait hutang. Artinya jaminan pemerintahan yang baik di masa depan penting untuk melihat daya saing secara berkelanjutan.

Terkait ini, maka tantangan pemenang Pilpres 2024 sangat berat terutama menyangkut komitmen memacu daya saing global. Paling tidak dengan melihat beragam komponen yang dinilai memberi gambaran bagaimana membangun pondasi daya saing untuk setiap komponennya secara sistematis dan berkelanjutan. Fakta ini penting untuk juga dikaji oleh AFEB PTMA.

Dari komponen infrastruktur ternyata daya saing kita masih rendah. Hal ini memberikan gambaran betapa komitmen pembangunan infrastruktur patut diapresiasi, meski di sisi lain masih ada persoalan. Evaluasi percepatan pembangunan harus diperhatikan tanpa mengabaikan potensi nilai tambah infrastruktur yang dibangun.  Jadi beralasan jika target pembangunan infrastruktur 2020-2025 ditingkatkan dengan fokuslima hal.

Pertama, meningkatkan kegiatan infrastruktur berbasis padat karya, pembangunan irigasi kecil, pengembangan air minum dan sanitasi, pembangunan pos lintas batas negara dan penataan kawasan strategis pariwisata nasional. Padat karya juga dimaksudkan agar pembangunan infrastruktur berpengaruh terhadap aspek penyerapan tenaga kerja di daerah.

Kedua, kegiatan preservasi jalan lintas timur, barat, dan tengah Sumatera, peningkatan dan preservasi jalan Trans Papua dan Kalimantan dan penggantian jembatan lintas utama. Ketiga, pembangunan bendungan baru, penyelesaiaan pembangunan bendungan lanjutan dan irigasi, pengembangan air baku, pengendalian banjir dan pengamanan pantai dan pengendalian lumpur Sidoarjo.

Keempat, pelaksanaan sertifikasi tenaga kerja konstruksi, Komite Keselamatan Konstruksi (K3). Kelima, dukungan strategis pengembangan infrastruktur kota baru dan pengembangan kawasan khusus.

Kelima hal tersebut menjadi catatan penting dalam upaya pengembangan pembangunan proyek infrastruktur secara sistematis dan berkelanjutan sehingga pencapaian daya saing meningkat secara signifikan.

Komitmen

Komitmen terhadap upaya pembangunan infrastruktur untuk memacu daya saing maka pemerintah saat ini memfokuskan ke tiga hal. Pertama, pembangunan infrastruktur tersebut diterima secara sosial oleh masyarakat atau socially acceptable. Hal ini penting karena yang akan berperan dan mendapatkan kemanfaatan terbesar dari pembangunan infrastruktur yaitu masyarakat sehingga masyarakat berkepentingan terhadap program proyeknya.

Kedua, program dan proyek pembangunan dan pengembangan infrastruktur harus bisa menguntungkan secara ekonomi atau economically viable. Artinya, pembangunan dan juga pengembangan infrastruktur harus bisa memberikan nilai tambah dan kemanfaatan secara ekonomi terutama dalam upaya memacu geliat ekonomi di daerah. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) bisa masuk dari peran dan keterlibatannya berdasar potensi sumber daya lokal ini.

Ketiga, pesatnya pengembangan pembangunan melalui program proyek infrastruktur harus ramah lingkungan atau environmentally sound. Argumen yang mendasari karena kegiatan ini bersifat jangka panjang, bukan jangka pendek sehingga implikasi terhadap lingkungan perlu diperhatikan, termasuk juga pertimbangan terhadap aspek keterkaitan dengan keberlanjutan secara sistematis.

Pemahaman itu menegaskan bahwa pada jangka panjang keberlanjutannya menjadi penting sehingga ini tidak bisa mengabaikan terhadap ancaman dampak negatif lingkungan, termasuk perhitungan tentang dampak sosialnya. Artinya, AFEB PTMA perlu memikirkan pengembangan program atau proyek infrastruktur yang bisa memberikan keuntungan sosial ekonomi dan minimalisasi dampaknya.

Dr. Edy Purwo Saputro, SE., M.Si, Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274