info@umsb.ac.id (0751) 482274

Hubungan Gadget, Bullying, Dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Senin,09 Oktober 2023 12:15:00
Dibaca: 509 kali
Riko Riyanda, S.IP., M.Si

Masyarakat khususnya orang tua siswa telah salah persepsi terhadap gadget, tidak punya pemahaman yang sama terhadap fungsi gadget, bukannya membantu malah sebaliknya. Dampak gadget ini terlalu berbahaya untuk anak-anak jika tidak difilter sedemian rupa oleh orang tua. Sesalah-salahnya anak, tetap orang tua yang disalahkan akibat dampak bahaya dari gadget. Dampak gadget merambah pada perilaku kriminal seperti bullying (perundungan) atau aksi kekerasan.

Istilah Bulling dikenal sebagai penindasan. Merupakan segala bentuk penindaan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau kelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain. Dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. Bullying merupakan salah satu tindakan tidak terpuji yang merugikan korbannya bahkan hingga mempengaruhi kesehatan psikisnya. Parahnya kasus Bulling ini lagi trend di semua kalangan siswa siswa atau para remaja.

Menurut Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat kasus perundungan di satuan pendidikan periode Januari-Sepetember 2023 mencapai 23 kasus. Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyartu mengatakan, dari 23 kasus itu, dua korban diantaranya meninggal dunia usai mengalami perundungan. (kompas,4/10). 

Kasus yang viral adalah tentunya kasus bullying di SMP di Cilacap kemaren. Hampir meninggal siswa ini dibuatnya karena diserang secara brutal oleh temannya. Viralnya kasus perundungan yang bermotif kekerasan tersebut sangat sadis dan tidak berperikemasusiaan.

Salah satu penyebab dari perilaku Bullying karena keluarga, khususnya orang tua tidak membatasi anak-anaknya dalam menggunakan gadget. Meski gadget sering digunakan untuk menambah pengetahuan yang mendukung penyelesaian tugas-tugas yang diberikan guru, namun tidak jarang gadget justru menambah masalah di dunia pendidikan saja. Kejadian seperti ini mengakibatkan siswa sering mendapat teguran dari guru. Walaupun ada aturan tidak boleh bawa gadget ke sekolah, sering kali siswa mengakali guru dengan mencari waktu senggang untuk bermain gadget.

Zaman sekarang bahkan ada orang tua yang membelikan anaknya gadget tanpa memikirkan dampak buruk kecanduanya, dan orang tua tidak bisa menfilter apa saja yang akan dilihat anaknya. Maka oleh sebab itu, dibutuhkan komunikasi yang dekat kepada siswa agar bisa terhindar dari kecanduan gadget ini baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Perlu diketahui penggunaan gadget bagi remaja lebih banyak digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang tidak ada berhubungan dengan kegiatan sekolah, justru penggunaan gadged mereka gunakan untuk menonton konten-konten yang tidak medidik, seperti aksi smackdown, film kungfu, dan media sosial lainnya yang ada unsur kekerasannya. Tidak hanya itu, konten dewasa berbentuk video porno bisa mereka lihat tanpa orang tua ketahui.

Sering viralnya kasus bullying akhir-akhir ini tidak terlepas dari lemahnya kontrol orang tua terhadap anaknya dalam penggunaan gadget. Kecanduan penggunaan gadget sepeti kecanduan rokok yang sulit lepas dari perokoknya. Kondisi seperti ini turut memprihatinkan oleh pihak sekolah, guru bukannya tidak melakukan kontrol kepada siswa, akan tetapi siswa berupaya mencuri waktu di luar jam sekolah, dan mereka tahu caranya agar tidak ketahuan guru.

Sebenarnya tidak selalu konten negatif yang ditonton siswa, bisa juga berdampak positif, misalnya melihat konten yang mendidik dan ada unsur ilmu pengetahuannya. Hanya saja, siswa sering berpikiran labil, dan belum dewasa serta bijaksana dalam menggunakan gadget sehingga cenderung untuk mengarah kepada perbuatan yang salah atau perbuatan menyimpang.

Belum lagi dampak dari permaian game hingga larut malam yang dilakukan oleh para siswa, perilaku ini sudah pasti menyita waktu dan akan berpengaruh pada kesehatan fisik, terutama sekali pada kesehatan mentalnya. Pada awalnya dimaksudkan untuk mengisi waktu senggang namun tanpa disadari keasyikan dengan game justru melewati batas waktu senggang semula. Hal seperti ini sebaiknya tidak perlu terjadi, kesehatan mental yang terganggu, bisa mengarah kepada perilaku bullying (perundungan). Akibat dari gadget ini anak-anak menjadi susah diatur dan tidak nurut kepada orang tuanya.

Hubungan Gadjet Dengan Maulid Nabi Muhammad SAW

Peran orang tua dan wali murid sangat diharapkan dapat mendidik anak-anak nya dengan sebaik-baiknya agar tidak mengalami ganggungan mental/psikis yang bisa sewaktu waktu mengarah pada perilaku bullying (perundungan). Caranya adalah orang tua harus menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Orang tua yang tidak bisa menjadi tauladan bagi anak-anaknya berpotensi menjadikan anak berprilaku kekerasan.

Memberikan contoh kepada anak-anak inilah yang dicontohkan oleh Nabi besar Muhammad SAW kepada umatnya, itulah salah satu makna yang terkandung disetiap memperingati kelahiran Nabi Muhammad WAS (12 Rabbiul Awal). Salah satu tujuan Rasullullah diutus oleh Allah SWT kedunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Hal ini sesuai hadist Rasullullah dalam riwayat Al-Baihaqi “sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak”.

Sesuai dengan hadis di atas dapat dikatakan bahwa salah satu misi kenabian Rasulullah adalah pembentukan serta kebaikan akhlak manusia. Hal ini harus selalu tersimpan di memori setiap muslim di muka bumi. Kita selaku manusia pada umumnya serta umat muslim khususnya harus menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), karena kemuliaan akhlak beliau tidak diragukan lagi, serta senantiasa selalu dijaga oleh Allah SWT.

Keteladanan akhlak Rasullullah berbanding terbalik dengan keadaan akhlak manusia yang ada pada zaman ini. Realita yang terjadi saat ini memperlihatkan banyaknya kemerosotan akhlak, khususnya dikalangan remaja yang masih berstatus peserta didik, beberapa contoh, tawuran, miras, perjudian, pergaulan bebas (perzinaan), sampai pada aksi kekerasan (bullying) yang melibatkan pada kasus remaja pada umumnya.

Penyebabnya sepeti yang telah dijelaskan bahwa kita tidak bisa membendung kemajuan teknologi yang begitu pesat, mereka dapat mengakses apapun yang mereka inginkan secara bebas tanpa pengawasan. Di era milenal saat ini gadget justru memperburuk akhlak para remaja atau bisa kita katakan anak dibawah umur. Di zaman nabi memang belum ada gadjet akan tetapi nilai-nilai akhlak yang diajarkan oleh nabi tak akan pernah lapuk karena hujan, dan tak akan pernah lekang karena panas. Sesibuk-sibuknya nabi selalu meluangkan waktu untuk keluarganya, anak dan istrinya.

Seluruh umat di dunia ini, kenal nabi sebagai panglima perang yang gagah berani melawan musuh-mushnya, berada di garda terdepan dan tidak gentar sedikitpun menghadapi musuh yang akan menghancurkan Islam pada zaman itu. Nabi adalah sosok yang menempatkan diri sesuai tempat dan keberadaannya. Di medan perang dia adalah sosok pemimpin, di rumahpun demikian, beliau dikenal dengan seorang ayah yang lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Beliau ajak anak-anak bermain, beliau bercanda, dan beliau mengajarkan apapun kepada anak-anaknya. Hubungan beliau dengan anak-anaknya sangat dekat, karena beliau sadar betul bahwa sangat penting menjaga dan memelihara  keluarga dari siksaan api neraka.

Konteks zaman sekarang, banyak dikalangan seorang anak yang kehilangan sosok pemimpin (ayah) di keluarganya, tugas ayah bukan hanya sekedar mencari nafkah, lebih dari itu bisa menjaga anak-anaknya dari perbuatan-perbuatan yang akan mengarah pada jurang kemaksiatan dan kemudaratan. Caranya tidak lain dan tidak bukan berikan contoh yang baik kepada anak-anak seperti apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

Gadget bukan dilarang, hanya saja kapan dan dimana bisa digunakan. Bagaimana mungkin seorang ayah melarang anaknya main gadget sementara dia terus bermain gagget dekat anaknya tanpa mempedulikan keinginan bermain-main dengan anak-anaknya. Ayahnya mengalami kacanduan, anaknya pasti ikut kencaduan. Mana mungkin menyuruh anak shalat ke mesjid sementara ayahnya jarang pergi shalat ke mesjid.

Oleh karena itu penulis disini merefleksikan kehidupan Nabi Muhammad sebaik-baik contoh agar keluarga kita terhindar dari perilaku-perilaku menyimpang (maksiat), dan mari kita bersama-sama bertanggung jawab membersarkan anak-anak kita dengan akhlak seperti tuntutan nabi. Suatu keniscayaan bahwa apa yang kita lakukan di atas dunia ini nanti akan ditanya pertanggung jawabannya kepada Allah di Yaumil Akhir kelak, termasuk dalam urusan mendidik anak. Semoga Allah selalu menuntun kita melahirkan generasi yang sholeh/sholehah yang mendahulukan adab baru kemudian ilmu pengetahuan.

Penulis : Riko Riyanda, S.IP., M.Si (Dosen Ilmu Politik UM. Sumatera Barat, Dan Co Editor UMSB Press)

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274