info@umsb.ac.id (0751) 482274

Hakekat Bahagia Suatu Bangsa Dalam Perpektif Islam

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Senin,16 Oktober 2023 08:25:00
Dibaca: 728 kali

Kemajuan suatu bangsa dengan era modernisasi ditentukan oleh spirit need for achievment (virus jiwa N-Ach). Terdapat suatu paradoks dimana bangsa selalu berlomba-lomba ingin maju dan berkembang pesat dengan akselerasi pembangunan dan capaian-capaian yang akan menghasilkan teknologi modern, serta mempunyai merek dagang internasional  mendunia yang terus dikembangkan sampai sekarang.

Negara-negara di dunia akan selalu berinovasi dan selalu berkompetesi melalui perdagangan yang ketat, agar bisa menguasai dunia dan bisa bertahan dengan segala ancaman pengaruh global. Ambisi yang kuat seperti yang dulu pernah dicontohkan oleh Bangsa Troya dan kemudian Jepang, spirit yang punya ambisi kuat dengan perkembangan ekonomi yang pesat dan menguasai strategi dagang dunia. Namun terbukti, bangsa yang memiliki ambisi yang kuat, tidak lebih berbahagia dari bangsa yang mendahulukan rasa bersyukur dan hidup secukupnya. Hal itu karena betul tak ada batas tertinggi buat kepuasan, sayang hanya seperempat respon dunia yang meniscayai fenomena tersebut.

Dengan mengukur satisfiction with life index, kebahagiaan bangsa Jepang hanya di urutan ke 90 dunia. Negara kecil dan tak terlalu kaya, seperti Bahana, Swedia, Malta, Kosta Rika, dan Butan termasuk 20 besar dunia dalam kebahagiaan bangsanya. Hidup juga perlu enjoy, survei kebahagiaan yang memakai data WHO, UNESCO, CIA, dan New ekonomic Foundation tersebut diukur dari kepuasaan subyektif bangsa terhadap kesehatan, pendidikan, dan kekayaan relatif, selain tingkat pengharapan terhadap hidup. Makin rendah ekspektasi suatu bangsa, makin gampang tumbuh rasa bersyukurnya dan terangkat rasa bahagianya. Sebaliknya, makin tinggi ekspektasi bangsa, makin sering tidak puas dan menjadi kurang bahagia.

Kita melihat bagaimana orang Jepang berjalan kaki seperti dikejar hantu. Mereka rata-rata gila kerja dan tinggi ekspektasi dalam hidupnya. Begitu juga Orang Korsel, Cina, dan Thailand yang derajat kebahagiaannya masing-masing di urutan ke 102, ke 82 dan ke 76 saja. Tingkat pengejaran prestasi tanpa henti bangsa berbanding terbalik dengan tingkat perolehan kebahagiaan hidup. Kemudian kita lihat Bangsa Jepang terkenal memiliki tingkat kematian dengan cara bunuh diri yang begitu tinggi dibadingkan dengan bangsa lain, karena bangsa Jepang banyak mengalami problem hidup yang tidak dilandasi dengan rasa bersyukur. Tingkat stres yang tinggi di Jepang membuat mereka lupa akan kehadiran Tuhan dalam sisi sisi kehidupannya.

Suka Mengumpulkan Harta Tak Menjamin Kebahagian

Ada suatu perkataan bijak yang mengatakan bahwa uang bukanlah segala-galanya tapi segala-galanya butuh uang.  Untuk menjelaskas ini kita merujuk kepada ajaran islam, dimana ajaran islam mengajarkan tentang qana’ah (secukupnya). Membeli barang itu sesuai dengan kebutuhan bukan atas keinginan-keinginan yang mengakibatkan kepada hasrat untuk menjadi pribadi yang kikir, pelit, loba dan sejenisnya. Diperparah dengan hasrat atau keinginan itu dibarengi dengan perilaku-perilaku buruk seperti keinginan untuk korupsi dan memakan hak-hak orang lain. Jangankan keinginan gemar bersedekah kepada orang lain yang membutuhkan, justru malahan mereka lebih suka menjadi maling (koruptor) demi menjadi kaya.

Di dalam ajaran islam, dituntut hidup dengan kesederhanaan saja, seperti apa yang pernah dicontohkan oleh Rasullullah SAW dan para sahabat-sahabatnya. Allah SWT tidak suka sesuatu yang berlebih-lebihan, apalagi memamerkan harta kekayaan demi gengsi dan berharap pujian manusia. Bahagia bagi kebanyakan orang hanya diukur lewat uang semata, sehingga mereka berlomba-lomba untuk mengumpulkan uang sebanyak banyaknya, tidak peduli dimana sumber uang itu mereka dapatkan. Bisa jadi antara harta yang halal dan yang haram sudah bercampur demi memenuhi keinginan-keinginan dunia saja.

Salah satu bagian dari rukun iman yang wajib kita yakini adalah mengimani hari akhir, Mengimani hari akhir memberikan peringatan kepada kita akan ada bentuk hari pembalasan apa yang pernah kita perbuat di dunia. Soal harta, sangat berat pertanggung jawabannya dihadapan Allah nanti di akhirat. Setidaknya ada  2 pertanyaan yang akan ditanya soal harta, dari mana sumber harta itu kamu dapatkan dan kemana saja harta itu kamu belanjakan. Artinya semakin banyak harta makin berat langkah masuk syurga, kecuali diperoleh dengan cara cara yang halal dan banyak dimanfaatkan untuk kepentingan agama (sedekah jahiriyah).

Filosofi orang terhadap harta ini ada yang salah kaprah, maksudnya adalah banyak orang yang menghabiskan waktu mencari harta tanpa mempedulikan kesehatan mereka, mereka memaksakan diri mencari uang tanpa mempedulikan kondisi tubuh yang juga perlu istirahat. Kesehatan begitu mahal harganya, oleh karenanya sangat penting menjaga kesehatan agar kita tidak jatuh sakit, sebab kalau sudah jatuh sakit, uang yang sudah kita kumpul-kumpulkan tadi habis untuk biaya berobat ke rumah sakit. Mengejar harta tidak dilarang dalam islam tapi berlebihan mengejar harta dan zalim pada diri sendiri merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan dalam agama.

Tidak hanya harta benda yang berharga di dunia ini, ada keluarga yang mendampingi kehidupan kita setiap hari. Keluarga adalah tempat paling  nyaman dalam memperoleh kebahagian. Berkumpul dengan anak istri, mendidik anak-anak agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah juga kebahagian sejati yang tak ternilai harganya. Bisa menjadikan keluarga yang rukun, tentram dan damai itu juga merupakan kebahagiaan.

Betapa banyak orang kaya, akan tetapi keluarganya hancur berantakan, perceraian sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, suami tidak menempatkan istri sebagai teman hidup dalam berbagai persoalan hidup rumah tangga, begitu juga sebaliknya, yang pada akhirnya mereka memilih teman kerjanya sebagai curhat ternyaman dalam menyampaikan persoalan hidupnya. Jika sudah begini isu-isu perselingkuhan merebak dalam kehidupan rumah tangga. Uang, harta, dan kuasa berlimpah, tapi merasa tidak bahagia, karena tidak mensysukuri  nikmat yang diberikan oleh Tuhan yang maha kuasa.

Orang bisa membeli ranjang emas bukan tidur, bisa membeli seks bukan cinta, bisa membeli obat, bukan kesehatan. Jadi benar adanya paradigma pendidikan mesti diputar agar para lulusannya bekerja hanya untuk profesi saja tetapi pekerjaan itu betul-betul mereka cintai. Itu juga sebabnya masuk universitas sekarang dipandang penting menyeleksi agar kelak calon profesional tidak meraih kesuksesan yang semu. Banyak duit tetapi tidak bahagia.

Universitas di negara maju sekarang menerima mahasiswa tidak semata melihat prestasi akademis. Calon mahasiswa pintar katanya banyak, namun yang bakal menjadi profesional sejati makin sedikit. Hanya karena bila mencintai bidang pekerjaan, kesuksesan sejati dan produktivitas buat negara akan terpetik. Pintar saja tidak cukup, sekarang anak perlu pintar plus. Beberapa jenis kecerdasan belum tentu diperoleh di sekolah.

Ada jenis pekerjaan yang tidak bisa dipelajari tetapi berkembang sendirinya bila anak tidak kutu buku dan tidak mengikuti perkembangan teknologi. Di era sekarang gaptek dilarang, harus bisa dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Kelebihan taking knowledge seperti itu yang tidak semua anak miliki. Menyimpan kecerdasan mampu meraih kabahagiaan salah satunya. Disini juga letak peran orang tua dalam mengarahkan potensi anaknya.

Predikat negara paling bahagia di dunia didapatkan oleh negara Denmark karena dukungan masyarakatnya yang mampu mendidik dan membesarkan anak secara positif. Pola asuh orang tua di Denmark juga kerap mencuri perhatian karena mampu membuat anak menjadi lebih positif dan bahagia. Di samping itu, negara ini membantu masyarakatnya agar memiliki kesadaran yang tinggi dan kepedulian terhadap sesama.

Untuk bangsa Indonesia sekurang-kurangnya negara harus cukup memberi pendidikan dan kesehatan, selain jaminan hari tua. Sekolah wajib mendidik anak mudah merasa bersyukur dan meniscayai bahwa tidak ada batas tertinggi dalam hal kepuasan hidup, selain meniscayai bahwa uang tidak bisa membeli apa saja. Tidak juga mampu menebus kebahagiaan dalam hidup. Sampai pada sutau kesimpulan, bukan soal harta saja mendapatkan kebahagian, melainkan bagaimana bangsa ini bisa menikmati hidup dengan penuh rasa syukur, menerima ketetapan yang diberikan Allah kepadanya. Semoga tulisan ini bermanfaat buat kita bersama.

Penulis : Riko Riyanda, S.IP., M.Si Dosen Ilmu Politik UM. Sumatera Barat, Dan Co Editor UMSB Press

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274