info@umsb.ac.id (0751) 482274

Al-Quran sebagai Pedoman Membangun Peradaban

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Kamis,28 Maret 2024 09:49:00
Dibaca: 78 kali

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan dari al-alaq, Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar dengan qalam. (QS. Al ‘Alaq ayat 1-4)

“Seorang akan memancarkan cahaya untuk menerangi di sekelilingnya maka hanya dengan genggaman ilmu dan Keadaban dan itu semua hanya dengan Iqra.”

Ramadan merupakan bulan yang agung nan suci, karena di bulan inilah salah satu peristiwa yang mana dari situlah ada sebuah peristiwa Allah menurunkan wahyu kepada sang kekasih, Muhammad saw, yang lebih familiar adalah turunnya kitab suci Al-Qur’an pada 17 Ramadan (Nuzulul Qur’an).

Al-Qur’an sebagai petunjuk, pedoman hidup umat manusia, dan surat pertama turun Surat Al ‘Alaq ayat 1-12.

Jika kita menilik asbabun nuzul, Allah menurunkan Al-Qur’an mempunyai sebuah pesan bahwa dengan membaca umat manusia akan dituntun dalam membangun peradaban yang didasari nilai keimanan (tauhid) dan diikuti ilmu.

Dengan ilmu, umat manusia akan selamat di dunia dan akhirat, dan sudah tentu dengan rahmat dan petunjuk Allah yang serba Maha tersebut.

Pada waktu Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, dia masih ummi atau belum bisa membaca. Atas bimbingan malaikat Jibril, Nabi Muhammad pun menjadi sosok pribadi yang agung.

Nabi Muhammad mampu mengguncang dunia dengan membangun sebuah peradaban di kala kondisi umat kala itu masih diliputi jahiliah atau kebodohan.

Maka, sangat relevan sekali bulan Ramadan ini menjadi titik awal atau titik nol untuk kita agar berusaha dengan sekuat tenaga membangun kultur atau tradisi membaca atau iqra secara holistik-masif di kalangan umat terutama warga persyarikatan.

Karena berdasarkan survei, tingkat kecerdasan bangsa kita masih jauh tertinggal, yaitu di urutan 129 dengan prosentase 78,49 persen. Kita masih kalah dengan negara tetangga kita, yaitu Singapura.

Memang tidaklah mudah mengubah kebiasaan masyarakat agar gemar membaca, menyisihkan waktu untuk membaca.

Dan ini harus diawali dari masing-masing individu, kemudian ditularkan dan diterapkan di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara secara kontinu.

Karena dengan membaca, kita bisa tahu mana itu salah dan benar, mana yang harus dilakukan dan dijauhi, yang bermanfaat dan mudarat, yang membawa keselamatan dan menjerumuskan ke lembah kehinaan.

Pancaran Iqra untuk Kesejatian Ilmu

Jika umat membuat budaya dan tradisi iqra yang holistik, maka hal itu akan memancarkan nilai tauhid. Sehingga manusia bisa menyelaraskan nilai-nilai intelektual, spiritual, dan nurani.

Mengutip ungkapan Emha Ainun Najib (Cak Nun), “Menyatunya badan kita dengan kepala kita maka ilmu kesejatian atau jati itulah patokan atau akar yang disebut keseimbangan hidup.”

Dengan demikian, kita akan menjadi insan kamil, pribadi yang memancarkan kebaikan hati, pikiran, dan perilaku. Menampilkan nilai-nilai kebajikan dan menjadi pribadi yang diidam-idamkan.

Untuk menjadi insan yang kamil butuh proses yang panjang dan tidak akan sampai finish dalam kehidupan manusia, karena kesempurnaan itu milik Allah. Minimal kita hanif atau menjadi beriman yang hakiki.

Semoga, di bulan Ramadan kita bisa menggapai menjadi insan yang kamil dan menuju umat yang ulil albab, yaitu umat yang cerdas dalam membaca masa depan dengan didasari nilai-nilai tauhid yang kokoh.

Hal ini sesuai janji Allah dalam surat Al Mujadallah: “Allah akan mengangkat derajad orang-orang yang berilmu.” (*)

Oleh: Rumini Zulfikar

Artikel ini sudah terbit di Majelis Tabligh

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274