info@umsb.ac.id (0751) 482274

Masih Muda Di Usia 300 Tahun Namun Tua Di Usia 60 Tahun

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Jumat,30 Desember 2022 12:43:00
Dibaca: 22 kali

Humas UM Sumatera Barat – Cerita tentang hidup dan mati adalah sesuatu yang tidak ada habisnya, sebab kematian adalah sesuatu yang sudah di takdirkan oleh Allah SWT dan bersifat sangat rahasia hingga tidak ada satupun yang mengatahui kapan ajal akan menjemput selain Allah yang maha mengetahui. Maka dari itu sebagai umat manusia yang menghambakan diri padanya kita dihimbau untuk mempersiapkan bekal untuk di akhirat kelak dengan memperbanyak amal kebaikan.

Dalam satu riwayat dikisahkan Nabi Nuh AS melihat seorang wanita menangis, menyaksikan hal tersebut Nabi Nuh menghampiri wanita tersebut seraya bertanya apakah gerangan yang menyebabkan wanita itu meneteskan air mata.

“Wahai ibu mengapa kamu menangis?", tanya Nabi Nuh.

Diantara deraian air matanya wanita itu menjawab, “Aku menangisi kematian anakku, dia meninggal di usianya yang masih sangat muda bahkan masih dalam masa keemasannya”.

Mendengar ucapan wanita tersebut Nabi Nuh malanjutkan pertanyaannya, berapakan usia anak anda yang masih sangat muda tersebut? Wanita yang sedang menangis itu berkata, usia anakku baru 300 tahun.

Pada masa itu usia 300 tahun memang tergolong masih muda sebab usia Nabi Nuh dikisahkan mencapai 1.050 tahun.

Dengan maksud menenangkan dan menghilangkan kesedihan wanita tersebut Nabi Nuh berkata, wahai ibu apa yang akan kamu lakukan jika seandainya kamu hidup di masa umat manusia berusia tidak lebih dari 60 tahun, mendengar pernyataan Nabi Nuh wanita itu tertegun lalu berkata adakah seseorang yang hidupnya hanya 60 tahun?

Dengan mantap Nabi Nuh membenarkan ucapannya itu, “Iya mereka adalah umat yang hidup pada akhir zaman”.

Disebabkan rasa penasaran wanita itu terus menanyai Nabi Nuh hingga terjadilah percakapan di antara mereka.

Si Ibu : Dalam waktu yang sangat singkat itu, apakah diantara mereka ada yang berbuat maksiat kepada Allah?

Nabi Nuh : Tentu saja, sebagian besar dari mereka bermaksiat kepada Allah.

Si Ibu : Apakah mereka sangat mencintai dunia yang hanya se-saat, dan berbondong – bondong untuk mendapatkannya?

Nabi Nuh : Benar itulah yang menjadi fokus dan perhatian mereka, dan hanya sedikit diantara mereka yang berfikir untuk mempersiapkan diri menuju akhirat.

Si Ibu : Apakah mereka saling bertengkar dan meributkan hal yang sederhana?

Nabi Nuh : Justru sebaliknya, mereka memperebutkan hal-hal yang paling tidak penting itu.

Si Ibu : Apakah mereka membangun gubuk untuk tempat tinggal, sedangkan mereka hidup di waktu yang singkat?

Nabi Nuh : Mereka tidak membangun gubuk untuk tempat tinggal sementara, sebaliknya mereka berlomba membangun istana untuk ratusan tahun, kemudian mereka mati dan meninggalkannya.

Si Ibu : Seandainya saya ditakdirkan untuk menggantikan umat tersebut, maka saya akan menghabiskan hidup di bawah naungan pohon, dan membangun rumah di ambang kuburan, lalu menghabiskan waktu untuk senantiasa bersujud kepada Allah yang maha kuasa.

Dari kisah tersebut dapat kita ambil hikmah jika hidup kita sebagai umat akhir zaman sangatlah singkat dan tidak ada apa-apanya dibandingkan umat – umat terdahulu. Mari kita berbenah diri, jaga selalu kedekatan dengan Allah SWT, semoga kita termasuk kedalam golongan hamba Allah yang beruntung.

Menurut mufassir  Ibnu Abbas RA, Nabi Nuh AS berumur sangat panjang yaitu 1.050 tahun dan berdakwah selama 950 tahun.

Frans Fradinen

***
Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Ayo Bergabung Bersama Fanpage UM Sumatera Barat  

Ikuti Juga Twitter UM Sumatera Barat  

***

SHARE :

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274