info@umsb.ac.id 0823 8497 0907

Rezeki Tak Akan Tertukar

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Selasa,25 Juni 2024 04:26:00
Dibaca: 128 kali

“Seorang mukmin harus percaya kalau rezeki itu datangnya dari Allah, bukan dari Makhluk-Nya.”

Allah Ta’ala adalah penjamin dan yang membagikan rezeki di antara hamba-hamba-Nya, melapangkan rezeki sebagian manusia dan menyempitkan rezeki sebagian yang lain, hal itu dilakukan untuk suatu hikmah yang sempurna. Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendaki sesuatu untuk terjadi, pastilah hal itu sudah berdasarkan ilmu, kebijaksanaan dan keadilan-Nya.

Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi anugerah, maka Dia memberi dengan karunia dan ihsan-Nya, dan jika mencegah atau memberi cobaan, maka itu dilakukan atas kemahaadilan-Nya. Ketahuilah rezeki bagaikan hujan yang tidak terbagi secara merata. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tidak di padang sahara atau sebaliknya. Terkadang turun di pedesaan tidak di perkotaan atau sebaliknya dan begitu seterusnya.

Hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa mendatangkan derita. Ingatlah ketika Allah ‘Azza wa Jalla menenggelamkan kaum Nabi Nuh as yang membangkang! Dengan apa Allah Subhanahu Wa Ta’ala membinasakan mereka? Dengan hujan yang menyebabkan banjir dahsyat.

Maka dari itu bersabarlah dan terus berdoa dan berusaha. Karena yang mengatur rezeki itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan kita. Dan yakinlah jika rezeki kita masih ada, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti akan segera mengirim yang menjadi rezeki kita.

Dan agar Allah segera melimpahkan rezeki kepada kita, maka kita harus berdoa, sabar dan jangan su’udzon kepada sesama apalagi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika belum kita terimanya kiriman rezeki yang kita tunggu, semua hanya tentang kapan waktu yang tepat menurut Allah bukan menurut kita.

Bersabarlah dan terus berdoa, jangan gundah apalagi menyerah. Tetap semangat karena tidak ada proses yang mudah untuk tujuan yang indah. Begitulah harta atau bahkan dunia secara umum! Allah Subhanallah Wa Ta’ala tidak membagikannya merata kepada setiap orang.

Ada yang kaya, ada yang miskin dan ada yang berkecukupan. Harta, terkadang bermanfaat bagi hamba, terkadang harta bisa menyeretnya ke lembah nista yang berujung derita. Sementara perbuatan Allah tidak pernah kosong dari hikmah dan maslahat serta pasti bersih dari dari kezaliman dan kesalahan.

Seluruh alam semesta ini milik Allah dan semua keputusan pengaturan alam semesta terserah pada Allah, justru ini menunjukkan Ketuhanan-Nya yang haq. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah melebihkan sebagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (QS. An-Nahl: 71)

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-‘Ankabuut: 62)

Ulama ahli Tafsir, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Maka di antara makhluk ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Dan Allah Maha Mengetahui tentang apa yang cocok bagi masing-masing di antara mereka dan Maha Mengetahui siapa saja yang cocok berstatus kaya dan siapa saja yang cocok berstatus miskin.

Karena itu mari kita semua selalu ingat bahwa si miskin dan si kaya, keduanya sama saja di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, asal sama-sama bertakwa. Semakin bertakwa seseorang, maka semakin dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian.” (QS. Al-Hujuraat: 13)

Sebagai orang yang beriman, kita tentunya meyakini Allah-lah yang Maha Memberi rezeki. sebagaimana kalam-Nya: “Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. adz-Dzariyat: 58)

Karena itu, jemputlah rezekimu dengan cara yang halal! Pilih jenis pekerjaan yang halal, jangan yang haram.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami Berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. al-Baqarah : 172)

Maka, seorang muslim dituntut untuk makan dari yang halal. Jika dia memberi nafkah maka harus dari penghasilan yang baik, dan hal itu tidak bisa terwujud kecuali apabila pekerjaan yang dia pilih telah dibolehkan dalam Islam.

Rezeki yang haram tidak akan membawa keberkahan, hanya akan membinasakan! Diriwayatkan dari Ka’b ibn ‘Ujrah radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya: ”Wahai Ka’b ibn ‘Ujrah ! Sesungguhnya tidak akan masuk surga, daging dan darah yang tumbuh dari harta haram, neraka lebih berhak atau patut baginya.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Karena itu, carilah rezeki dengan cara yang halal. Simak hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud berikut ini:

“Sesungguhnya ruh kudus atau malaikat Jibril, telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya”.

Maka jangan sampai berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan sampai kita berucap: “Rezeki yang haram saja susah, apalagi rejeki yang halal ?” Na’udzubillah!

Dalam hadis di atas berarti diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal. Janganlah rezeki tadi dicari dengan cara bermaksiat atau dengan menghalalkan segala cara.

Kenapa ada yang menempuh cara yang haram dalam mencari rezeki? Di antaranya karena sudah putus asa dari rezeki Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Intinya karena tidak sabar. Seandainya mau bersabar mencari rezeki, tetap Allah beri karena jatah rezeki yang halal sudah ada.

Meski dalam keadaan yang kurang beruntung, tetaplah bersedekah! Berinfaklah di jalan Allah! Bukakanlah pintu- pintu kebaikan untuk orang lain. Lihatlah keadaan mereka yang berada di bawah kita, sehingga kita menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa bersyukur. Tetaplah berbagi.

Sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengurangi harta, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa mencari rezeki dengan cara yang halal dan baik, kemudian kita dapat memanfaatkannya di jalan yang diridai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah telah menentukan pembagian rezeki di antara hamba-hamba-Nya, lalu ada yang miskin ada pula yang kaya.

Adapun bagi orang yang ditakdirkan miskin, maka di antara hikmahnya, agar hamba yang miskin tersebut merasa senantiasa membutuhkan Allah, sehingga muncullah berbagai macam bentuk peribadatan dari dirinya, baik ibadah yang lahir maupun yang batin, seperti banyak berdoa, senantiasa bertawakal, mengharap dan mendekatkan diri kepada-Nya dan ia pun berkesempatan meraih derajat orang orang yang bersabar.

Demikian juga bagi orang yang kaya, ia akan mengetahui dan merasakan betapa besarnya nikmat Allah atas dirinya.

Sehingga akan terdorong untuk mensyukurinya, karena ia sadar bahwa kekayaan itu adalah ujian, maka ia berusaha jalani ujian itu dengan sebaik-baiknya, sehingga ia menjadi golongan orang-orang yang bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Jika demikian sikap si miskin dan si kaya tersebut, maka sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan itu sama saja bagi seorang muslim, yaitu sama-sama sebagai ujian dari Allah asalkan seseorang sudah sungguh-sungguh berusaha mengambil yang bermanfaat dalam hidupnya sesuai dengan ajaran Allah. Yang membedakan di antara keduanya hanyalah ketakwaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Wahai saudaraku yang sedang ditakdirkan miskin, tidakkah kita ingin menggapai janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut ini: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” . (QS. Az-Zumar:10)

Contoh sosok figur panutan dalam menyikapi kekayaan, yaitu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, seperti yang dikisahkan dalam kisah berikut ini, : “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari akan nikmat-Nya. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (QS. An-Naml: 40)

Oleh: Ferry Is Mirza

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274