info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp Logo

Wukuf di Arafah sebagai Puncak Ibadah Haji

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Selasa,26 Mei 2026 02:27:00
Dibaca: 125 kali

Oleh : Dr. Firdaus, M.H.I.

(Dosen Pascasarjana Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat)

Ibadah haji merupakan rangkaian ibadah yang sarat makna spiritual, pengorbanan, dan ketundukan kepada Allah SWT. Dari seluruh rangkaian tersebut, wukuf di Arafah menjadi puncak sekaligus inti pelaksanaan haji. Rasulullah SAW menegaskan pentingnya wukuf melalui sabdanya:

“Al-hajju ‘Arafah”

“Haji itu adalah Arafah.”

Hadist ini menunjukkan bahwa wukuf memiliki kedudukan yang sangat menentukan dalam ibadah haji. Pada tanggal 9 Zulhijah, jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Padang Arafah untuk berdoa, berzikir, membaca Al-Qur’an, bertalbiyah dan memohon ampunan kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati.

Wukuf: Momentum Singkat dengan Nilai yang Agung

Wukuf dimulai sejak tergelincir matahari pada 9 Zulhijah hingga terbit fajar 10 Zulhijah. Meski pelaksanaan utamanya berlangsung hanya beberapa jam, yakni sejak waktu Zuhur hingga menjelang Magrib, nilainya sangat besar di sisi Allah SWT. Karena itu, wukuf sering disebut sebagai puncak spiritual ibadah haji.

Di Padang Arafah, seluruh manusia berdiri dalam kedudukan yang sama. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat biasa. Semua mengenakan pakaian ihram yang sederhana sebagai lambang kesetaraan dan ketundukan di hadapan Allah SWT. Suasana ini menggambarkan persatuan umat Islam sekaligus mengingatkan manusia bahwa pada akhirnya seluruh makhluk akan kembali kepada Sang Pencipta.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa tidak ada hari ketika Allah paling banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka selain Hari Arafah. Oleh sebab itu, hari tersebut menjadi kesempatan mulia untuk memperbanyak doa, istigfar dan memohon rahmat Allah SWT.

Amalan Utama bagi Muslim yang Tidak Menunaikan Haji

Tidak semua umat Islam memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Namun demikian, kasih sayang dan rahmat Allah SWT tetap terbuka luas bagi seluruh hamba-Nya. Bagi kaum Muslimin yang tidak sedang berhaji, Rasulullah SAW menganjurkan pelaksanaan puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.

Beliau bersabda:

“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”

Puasa Arafah menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan diri dari dosa, serta menghadirkan suasana spiritual yang selaras dengan momentum puncak ibadah haji.

Selain berpuasa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak berbagai amalan kebajikan, seperti berzikir dan bertakbir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa dan istigfar, bersedekah, serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Menyambut Hari Raya Iduladha

Pada tanggal 10 Zulhijah, umat Islam menyambut Hari Raya Iduladha dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan. Pagi hari diawali dengan pelaksanaan salat Id berjamaah sebagai syiar Islam dan bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

Dalam tuntunan Sunnah Rasulullah SAW, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan sebelum melaksanakan salat Iduladha, di antaranya mandi dan mengenakan pakaian terbaik, memperbanyak takbir sejak malam hari raya, berjalan menuju tempat salat apabila memungkinkan, serta menunda makan hingga selesai salat dan menikmati hidangan dari daging kurban.

Suasana Iduladha dipenuhi lantunan takbir yang menggema:

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, wallahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.”

Kalimat takbir tersebut menjadi simbol pengagungan terhadap kebesaran Allah SWT sekaligus pengingat akan nilai ketakwaan dan pengorbanan dalam kehidupan seorang Muslim.

Kurban sebagai Wujud Ketakwaan dan Kepedulian Sosial

Setelah pelaksanaan salat Id, umat Islam yang memiliki kemampuan dianjurkan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT serta meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Allah SWT menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah darah ataupun daging hewan kurban, melainkan ketakwaan hamba-Nya. Oleh karena itu, ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarana pendidikan spiritual dan sosial bagi umat Islam.

Dalam tuntunan Sunnah Rasulullah SAW, hewan kurban hendaknya memenuhi syarat tertentu, seperti sehat dan tidak cacat, cukup umur, disembelih setelah salat Id, dilakukan dengan cara yang baik tanpa menyakiti hewan, serta dagingnya dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan kaum fakir.

Melalui ibadah kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, kepedulian terhadap sesama, semangat berbagi, dan ketaatan penuh kepada Allah SWT.

 

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274