Dr. Rahmi, Dosen Pascasarjana UM Sumatera Barat Laksanakan PKM Pencegahan Kekerasan Anak di Pasaman
Humas UM Sumatera Barat – Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan solusi atas persoalan sosial melalui pengabdian kepada masyarakat. Dosen Pascasarjana UM Sumatera Barat, Dr. Rahmi, M.A., melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu (20-21/6) tersebut mengangkat tema pemberdayaan masyarakat melalui penguatan kapasitas guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak di Kabupaten Pasaman. Turut hadir pada kesempatan tersebut anggota DPRD Sumatera Barat Donizar, Ketua AGPAI Kabupaten Pasaman Irwan, S.Ag dan stakeholder terkait lainnya.
Dr. Rahmi menjelaskan, Program pengabdian tersebut dilatarbelakangi tingginya angka kekerasan terhadap anak di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Pasaman. Berdasarkan data yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan, jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Sumatera Barat mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kabupaten Pasaman tercatat sebagai salah satu daerah dengan angka kasus tertinggi, sementara Kecamatan Padang Gelugur menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak yang didominasi kekerasan seksual terhadap anak. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius tim pengabdian dalam merancang program pemberdayaan yang berorientasi pada pencegahan.
Dalam pelaksanaannya, tim PKM memberikan pelatihan dan pendampingan kepada Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Kabupaten Pasaman guna memperkuat kapasitas organisasi dalam menyusun program-program pencegahan kekerasan terhadap anak. Selain itu, para guru juga memperoleh penguatan pengetahuan mengenai pendidikan karakter, baik melalui pembelajaran formal di sekolah maupun pembinaan secara informal di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Lebih lanjut dijelaskannya, pendidikan karakter memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang aman bagi anak. Menurutnya, rendahnya pendidikan karakter dapat memicu lemahnya empati, moralitas, dan pengendalian emosi yang pada akhirnya berpotensi melahirkan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak. Oleh karena itu, penguatan kompetensi guru menjadi salah satu langkah strategis agar mereka mampu menjadi agen perubahan dalam membangun budaya perlindungan anak di lingkungan pendidikan.

Melalui kegiatan tersebut, para guru PAI juga dibekali kemampuan untuk menjalankan perannya sebagai pendidik, pembimbing, teladan, sekaligus konselor bagi peserta didik. Penguatan kapasitas ini diharapkan mampu mendorong terciptanya sekolah yang ramah anak, bebas dari perundungan, serta memiliki sistem pendampingan yang lebih baik bagi korban maupun pembinaan terhadap pelaku. Program tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat dalam membangun ekosistem perlindungan anak yang berkelanjutan.
Kegiatan PKM tersebut ungkapnya, juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan Pendidikan Berkualitas, Berkurangnya Kesenjangan, serta perlindungan terhadap perempuan dan anak. Selain itu, program tersebut mendukung implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan karakter, perlindungan anak, dan penguatan peran tenaga pendidik menuju Indonesia Emas 2045. Tema pengabdian ini juga sejalan dengan fokus Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), terutama pada aspek kesehatan mental anak sebagai dampak dari tindak kekerasan.
Menurut Dr. Rahmi, hasil pelaksanaan program menunjukkan meningkatnya kapasitas organisasi guru PAI dalam menyusun program pencegahan kekerasan terhadap anak serta bertambahnya pemahaman para guru mengenai strategi pendidikan karakter sebagai upaya preventif dan pendampingan korban kekerasan. "Kami berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dapat terus diimplementasikan melalui program-program berkelanjutan, sehingga mampu menekan angka kekerasan terhadap anak di Kabupaten Pasaman dan menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman serta berorientasi pada perlindungan anak," ujarnya.
Sementara itu, tim yang diketuai oleh Dr. Rahmi, M.A itu didampingi Dr. Julhadi, M.A. dan Dr. Surya Afdhal sebagai anggota dosen. Program tersebut juga melibatkan dua mahasiswa UM Sumatera Barat, yaitu Syaskia Ramadhani dan Reza Rahmadani, yang berkontribusi dalam pelaksanaan pelatihan, pendampingan, penyusunan laporan, serta publikasi hasil kegiatan. Melalui program tersebut, UM Sumatera Barat kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak nyata, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat. (tia)
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Hubungi Kami
Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.
Alamat
Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172