info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp
Berita

Godaan Syahwat Tidak Mengenal Gelar dan Kedudukan

Oleh: Humas UM Sumbar
Jumat, 17 Juli 2026
09:27:00
Dibaca: 119 kali
Godaan Syahwat Tidak Mengenal Gelar dan Kedudukan

Oleh : Dr. Firdaus, M.H.I (Dosen Pasca Sarjana Hukum Keluarga UM Sumatera Barat)

Banyak orang beranggapan bahwa seseorang yang dikenal alim, menguasai ilmu agama, menjadi pengajar Al-Qur'an, atau bahkan telah mencapai jenjang akademik tertinggi, tentu terbebas dari penyimpangan moral. Kenyataannya, sejarah dan berbagai kasus yang pernah terungkap menunjukkan bahwa godaan hawa nafsu dapat menimpa siapa saja. Ilmu, kedudukan, dan penghormatan masyarakat memang merupakan nikmat besar, tetapi semuanya bukan jaminan bahwa seseorang akan selalu mampu mengendalikan syahwat apabila tidak disertai ketakwaan, pengendalian diri, dan rasa takut kepada Allah.

Dalam Islam, nafsu seksual adalah fitrah yang Allah tanamkan pada manusia. Penyalurannya telah diatur melalui pernikahan yang sah antara laki-laki dan perempuan. Ketika naluri tersebut disalurkan di luar batas-batas syariat, berbagai bentuk penyimpangan dapat terjadi. Karena itu, setiap muslim dituntut untuk senantiasa menjaga pandangan, hati, dan perilakunya, tanpa merasa aman hanya karena memiliki ilmu atau kedudukan.

Dari sudut pandang ilmiah, tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan mengapa seseorang dapat mengalami penyimpangan dalam perilaku seksual. Para ahli menjelaskan bahwa faktor biologis, psikologis, pengalaman hidup, lingkungan, pola pengasuhan, hingga kondisi mental dapat saling berinteraksi. Setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda sehingga tidak tepat menyederhanakan penyebabnya hanya pada satu faktor.

Islam juga membedakan antara dorongan yang muncul dalam hati dengan perbuatan yang dilakukan. Seseorang tidak dihukum karena godaan yang tidak dipilihnya, tetapi ia bertanggung jawab atas tindakan yang diputuskan dan dikerjakan. Oleh sebab itu, perjuangan mengendalikan hawa nafsu merupakan bagian dari jihad melawan diri sendiri yang harus dilakukan sepanjang hayat.

Pelajaran penting yang dapat diambil adalah bahwa kita tidak boleh mengultuskan manusia. Seorang ulama, qari, pendidik, dosen, ataupun guru besar tetaplah manusia yang dapat tergelincir apabila lalai menjaga diri. Sebaliknya, kita juga tidak boleh mudah mempercayai kabar atau tuduhan yang belum terbukti, karena Islam melarang prasangka dan fitnah. Sikap yang benar adalah menegakkan keadilan, menjaga kehormatan sesama, dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa.

Allah SWT mengingatkan dalam Surah At-Tahrim ayat 6 agar setiap mukmin menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. Demikian pula dalam Surah Al-Isra' ayat 32 Allah berfirman, "Janganlah kamu mendekati zina." Larangan tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim harus menjauhi seluruh jalan yang dapat menjerumuskan kepada penyimpangan. Semoga Allah senantiasa menjaga hati, akal, dan perilaku kita dari godaan hawa nafsu serta tipu daya setan.

 

Komentar 0

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Hubungi Kami

Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172

Telepon

(0751) 482274