Pesugihan : Ketika Ambisi Mengalahkan Akidah
ilustrasi
Oleh : Dr. Firdaus, M.H.I (Dosen Pascasarjana Hukum Keluarga UM Sumatera Barat)
Keinginan untuk hidup berkecukupan adalah fitrah setiap manusia. Namun, ketika hasrat memperoleh kekayaan ditempuh melalui jalan pesugihan, pilihan itu bukanlah tanda kecerdasan, melainkan gambaran rapuhnya akidah dan kekeliruan cara berpikir. Jalan pintas yang dijanjikan memang tampak menggiurkan, tetapi sejatinya hanya menawarkan kepuasan sesaat yang berujung pada penyesalan panjang.
Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak lama menegaskan pentingnya menjaga kemurnian tauhid sebagai fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Dalam Islam, hanya Allah SWT yang berhak menjadi tempat bergantung, memohon pertolongan, serta mengharapkan rezeki dan keberuntungan. Karena itu, segala bentuk keyakinan yang mengaitkan datangnya rezeki kepada selain Allah termasuk dalam perbuatan syirik yang wajib dijauhi.
Peringatan tersebut telah Allah abadikan melalui nasihat Luqman kepada putranya, "Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar" (QS. Luqman: 13). Ayat ini menegaskan bahwa syirik bukan hanya penyimpangan akidah, tetapi juga bentuk kezaliman terbesar karena menempatkan sesuatu selain Allah pada posisi yang tidak semestinya.
Ironisnya, di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, praktik pesugihan masih saja menarik sebagian orang. Impian menjadi kaya tanpa usaha membuat mereka rela menjalani berbagai ritual yang diyakini mampu mendatangkan harta melalui bantuan kekuatan gaib. Kawasan Gunung Kawi, misalnya, kerap muncul dalam berbagai cerita dan pemberitaan yang dikaitkan dengan praktik tersebut. Meski demikian, perlu dipahami bahwa tidak setiap orang yang datang ke sana memiliki tujuan melakukan pesugihan. Namun, apabila seseorang meyakini bahwa rezeki dapat diperoleh melalui permohonan kepada selain Allah atau melalui kekuatan gaib yang dianggap mampu menentukan nasib, maka keyakinan itu telah memasuki wilayah syirik yang dilarang dalam Islam.
Janji kemakmuran yang ditawarkan pesugihan pada hakikatnya hanyalah ilusi. Banyak kisah yang berakhir dengan hilangnya ketenteraman, retaknya hubungan keluarga, kerugian harta, hingga kehancuran kehidupan spiritual. Kekayaan yang diperoleh melalui jalan yang bertentangan dengan akidah tidak pernah menghadirkan keberkahan, melainkan menjadi awal dari berbagai persoalan yang lebih besar.
Islam mengajarkan jalan yang jauh lebih mulia. Rezeki diraih melalui ikhtiar yang halal, kerja keras, doa, tawakal, dan keyakinan penuh bahwa Allah adalah satu-satunya pemberi karunia. Proses tersebut mungkin tidak selalu instan, tetapi menghadirkan ketenangan hati dan keberkahan yang tidak dapat diukur dengan materi semata.
Oleh sebab itu, memperkuat tauhid harus menjadi prioritas setiap Muslim. Akidah yang kokoh akan menjadi benteng dari godaan jalan pintas yang menjanjikan kekayaan instan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sejati bukanlah seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan bagaimana harta itu diperoleh dengan cara yang halal, diridhai Allah SWT, dan membawa kebaikan bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Hubungi Kami
Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.
Alamat
Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172