Banjir dan Tanggung Jawab Bersama, Saatnya Kesadaran Masyarakat dan Ketegasan Pemerintah Berjalan Seiring
Oleh: Dr. Julhadi, MA (Kaprodi S3 Studi Islam UM Sumatera Barat)
HUJAN pada hakikatnya adalah rahmat Allah bagi kehidupan. Namun ketika hutan ditebang, sungai dipenuhi sampah, dan lahan resapan berubah menjadi beton, maka rahmat itu dapat berubah menjadi bencana. Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena ulah tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41). Oleh sebab itu, pencegahan banjir tidak hanya membutuhkan teknologi dan infrastruktur, tetapi juga kesadaran moral, kepedulian lingkungan, dan komitmen bersama untuk menjaga amanah Allah berupa bumi yang lestari.
Hujan adalah anugerah yang membawa kehidupan. Dari langit yang menurunkan air, tumbuh harapan bagi sawah, ladang, sungai, dan seluruh makhluk hidup. Namun, ketika keseimbangan alam dirusak oleh tangan manusia, rahmat itu dapat berubah menjadi musibah. Apa yang semestinya menghadirkan kesejukan justru mendatangkan kecemasan.
Setiap kali hujan deras mengguyur Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, rasa khawatir selalu menyelimuti masyarakat. Galodo dan banjir menjadi momok yang terus menghantui. Dalam dua hari terakhir, Kota Padang kembali dilanda banjir hebat yang mengganggu aktivitas masyarakat, merusak harta benda, bahkan menyisakan trauma bagi banyak keluarga..
Banjir yang terus berulang di berbagai daerah di Sumatera Barat seringkali dianggap sebagai bencana alam semata. padahal dalam banyak kasus, banjir merupakan akumulasi dari perilaku manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan serta lemahnya pengawasan dan penegakan aturan. Oleh karena itu, upaya pencegahan banjir tidak cukup hanya dengan membangun tanggul, memperdalam sungai atau memperbesar saluran drainase.
Pencegahan harus dimulai dari perubahan kesadaran masyarakat dan diperkuat oleh kebijakan pemerintah yang tegas, konsisten, dan berkelanjutan.
Kesadaran Masyarakat sebagai Kunci Utama
Pada dasarnya masyarakat memahami bahwa banjir merupakan bencana yang sangat membahayakan. Banjir dapat meluluhlantakkan rumah, merusak harta benda, menghambat aktivitas ekonomi, bahkan meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Karena itu, upaya mencegah banjir harus diawali dari kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh warga.
Lingkungan yang sehat adalah warisan yang harus dijaga bersama. Banjir tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi merupakan akumulasi dari berbagai tindakan manusia yang mengganggu keseimbangan alam. Menurut pandangan penulis, beberapa faktor utama penyebab banjir adalah sebagai berikut.
- Penebangan Hutan Secara Berlebihan dan Tambang Ilegal
Hutan merupakan daerah resapan air alami yang memiliki fungsi sangat vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Pengetahuan mengenai fungsi hutan sebenarnya telah dipahami oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, baik kalangan bawah maupun atas. Namun, dalam praktiknya masih jauh dari harapan.
Ketika pohon-pohon ditebang secara masif tanpa reboisasi yang memadai, kemampuan tanah menyerap air hujan menurun secara drastis. Air hujan akhirnya mengalir langsung menuju sungai dan kawasan permukiman sehingga meningkatkan potensi banjir. Kondisi ini semakin diperparah oleh aktivitas tambang ilegal yang merusak struktur tanah dan mempercepat kerusakan daerah aliran sungai.
- Pembuangan Sampah Sembarangan
Persoalan yang tampak kecil ini sesungguhnya memberikan dampak yang sangat besar. Hampir setiap selesai kegiatan keramaian, termasuk kegiatan keagamaan, masih sering dijumpai sampah berserakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya menjaga kebersihan belum sepenuhnya menjadi karakter masyarakat.
Ironisnya, meskipun tempat sampah telah disediakan, masih ada yang membuang sampah sembarangan. Bahkan tidak sedikit fasilitas umum yang dirusak atau dicuri. Fakta ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengelola sampah sejak dari rumah masih perlu terus dibangun.
Kebiasaan membuang sampah ke sungai, selokan, dan drainase menyebabkan aliran air tersumbat. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air tidak lagi memiliki ruang untuk mengalir sehingga meluap ke jalan dan permukiman warga.
- Kurangnya Perawatan Drainase
Ajakan Pemerintah Kota Padang untuk melaksanakan gotong royong di lingkungan masing-masing merupakan langkah yang sangat baik. Namun, pelaksanaannya belum sepenuhnya berjalan secara optimal.
Banyak saluran drainase yang masih dipenuhi lumpur, sampah, dan sedimentasi sehingga kehilangan kapasitasnya dalam menampung debit air. Akibatnya, genangan bahkan banjir dapat terjadi meskipun hujan tidak terlalu deras. Perawatan drainase harus dilakukan secara rutin, berkesinambungan, dan menjadi budaya bersama agar fungsi saluran air tetap terjaga sepanjang waktu.
4. Alih Fungsi Lahan yang Tidak Terkendali
Berbagai pemberitaan media menunjukkan bahwa alih fungsi lahan di Kota Padang terus meningkat. Salah satu laporan media pada Kamis, 30 Januari 2025, menyebutkan sekitar 875 hektare lahan sawah mengalami penyusutan akibat perubahan fungsi lahan.
Alih fungsi lahan yang tidak terkendali berdampak langsung terhadap meningkatnya risiko banjir karena mengurangi daerah resapan air, meningkatkan limpasan permukaan saat hujan, mempersempit ruang terbuka hijau, mengurangi kemampuan tanah menyimpan air, serta meningkatkan tekanan terhadap sistem drainase perkotaan.
- Rendahnya Kepedulian terhadap Kelestarian Alam
Belum lama ini penulis menyaksikan melalui media sosial sebuah peristiwa yang sangat memprihatinkan. Seorang warga dengan mudah mengambil batu pelindung sungai hingga akhirnya ditegur oleh seorang ibu, lalu videonya tersebar luas.
Peristiwa sederhana ini menjadi cermin bahwa masih ada sebagian masyarakat yang belum memiliki kesadaran menjaga fasilitas umum dan kelestarian lingkungan. Padahal, apabila kepedulian seperti yang ditunjukkan ibu tersebut tumbuh menjadi karakter kolektif masyarakat, maka risiko kerusakan lingkungan dapat ditekan.
Tindakan-tindakan yang merusak lingkungan, seperti penambangan liar, pembakaran lahan, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, hingga perusakan fasilitas pengendali banjir harus menjadi perhatian bersama. Keberanian masyarakat untuk mengingatkan dan mengawasi lingkungan perlu terus ditumbuhkan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.
Peran Pemerintah yang Tidak Bisa Ditawar
Di sisi lain, peran pemerintah sama pentingnya. Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam membangun sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Kesadaran masyarakat akan tumbuh lebih kuat apabila didukung oleh kebijakan yang jelas, konsisten, dan ditegakkan tanpa pandang bulu.
- Memperkuat Perlindungan Hutan
- Menata Sistem Drainase Secara Berkala
- Meningkatkan Edukasi Lingkungan
- Menegakkan Hukum Secara Tegas
- Mengintegrasikan Tata Ruang Berbasis Lingkungan
Banjir Adalah Cermin Perilaku Kita
Sesungguhnya banjir bukan hanya persoalan tingginya curah hujan. Banjir adalah cermin hubungan manusia dengan alam yang selama ini kurang harmonis. Ketika hutan dirusak, sungai dipenuhi sampah, lahan hijau terus berkurang, dan aturan diabaikan, maka alam akan memberikan konsekuensinya.
Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang bertugas memakmurkan, bukan merusak. Firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41 menjadi pengingat sepanjang zaman bahwa kerusakan di darat dan di laut muncul akibat perbuatan tangan manusia, agar manusia kembali kepada jalan yang benar.
Karena itu, solusi banjir harus dilakukan melalui dua pendekatan yang berjalan beriringan. Pertama, menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mencintai, menjaga, dan merawat lingkungan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Kedua, menghadirkan pemerintah yang berani, tegas, dan konsisten dalam melindungi alam serta menegakkan hukum tanpa kompromi terhadap setiap bentuk perusakan lingkungan.
Apabila kedua kekuatan ini bersatu, masyarakat yang sadar dan pemerintah yang hadir, maka risiko banjir dapat diminimalkan. Lingkungan akan menjadi lebih lestari, kota menjadi lebih nyaman dihuni, dan generasi mendatang dapat menikmati bumi yang tetap hijau sebagai amanah dari Sang Pencipta.
Pada akhirnya, banjir bukan semata-mata bencana alam. Ia sering kali merupakan refleksi dari kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan ciptaan Allah. Maka, mencegah banjir sesungguhnya adalah ikhtiar memperbaiki akhlak kita kepada alam.
sebab, ketika manusia memuliakan bumi, bumi pun akan menghadirkan keberkahan. Namun ketika manusia mengkhianati amanahnya, alam akan menyampaikan tegurannya dengan cara yang paling nyata.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Hubungi Kami
Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.
Alamat
Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172