Hadirkan Cultural Counselor Iran, UM Sumatera Barat Gelar Kuliah Umum Bahas Peradaban Islam dan Perdamaian Global
Dokumentasi oleh Sandra Putra, S.Kom
Humas UM Sumatera Barat Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat menggelar kuliah umum bertajuk Islamic Civilization and Global Peace di Hall B UM Sumatera Barat, Kamis (6/8). Kegiatan tersebut menghadirkan Cultural Counselor of the Embassy of the Islamic Republic of Iran, Dr. Yahya Jahangiri Suhrawardi, sebagai narasumber dan dimoderatori langsung oleh Dosen UM Sumatera Barat, Isral Naska, Ph.D.
Turut hadir pada kesempatan tersebut Wakil Rektor I UM Sumatera Barat, Dedi Satria, S.Si, M.Eng, Ph.D, Wakil Rektor II Puguh Setiawan, S.E, M.M, Wakil Rektor III Dr. Ahmad Lahmi, M.A, Direktur Pascasarjana Dr. Mursal, M.A, Ketua LPIM UM Sumatera Barat, Dr. Firdaus, M.H.I, Dekan Fakultas Agama Islam Dr. Syaflin Halim, M.A, Dekan Kehutanan UM Sumatera Barat Dr. Teguh Haria Aditia Putra, M.P, Ketua Program Studi, Dosen, tenaga Kependidikan, dan stakeholder terkait lainnya.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UM Sumatera Barat, Dedi Satria, S.Si., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian bersama. Menurutnya, sejumlah negara Islam masih dihadapkan pada berbagai bentuk ketidakadilan, konflik, dan krisis kemanusiaan sehingga diperlukan ruang dialog yang mampu menghadirkan perspektif baru mengenai peradaban Islam dan perdamaian global.
Ia juga memperkenalkan karakter masyarakat Minangkabau kepada narasumber dengan menjelaskan filosofi yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Minang, yakni "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah." Filosofi tersebut katanya, mencerminkan harmonisasi antara nilai adat dan ajaran Islam yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau dalam membangun toleransi, kebersamaan dan kehidupan yang damai.
Sementara itu dalam pemaparannya, Dr. Yahya Jahangiri Suhrawardi menegaskan bahwa masyarakat perlu membedakan makna perdamaian dengan sekadar tidak adanya perang. Menurutnya, suatu negara yang tidak sedang berperang belum tentu telah mencapai kedamaian yang sesungguhnya. Sebaliknya, kondisi dunia saat ini yang masih diwarnai berbagai konflik menunjukkan perdamaian sejati masih menjadi tantangan besar. Ia juga menyoroti apabila suatu peradaban mengatasnamakan Islam tetapi belum mampu menghadirkan kedamaian, maka perlu dilakukan refleksi terhadap pemahaman dan implementasi nilai-nilai Islam itu sendiri.
Menyinggung hubungan Iran dan Indonesia, Dr. Yahya menyampaikan, kedua negara memiliki hubungan yang erat, khususnya dalam bidang akademik dan kebudayaan. Saat ini terdapat sekitar 500 warga Indonesia yang berada di Iran, bahkan salah satunya masuk dalam nominasi penghargaan yang diberikan pemerintah Iran. Ia juga menilai Iran dan Indonesia memiliki kesamaan sebagai negara yang hidup dalam keberagaman, di mana berbagai kelompok agama hidup berdampingan. Bahkan, ketika terjadi serangan terhadap Iran, dampaknya tidak hanya dirasakan masjid, tetapi juga rumah-rumah ibadah agama lain, sehingga persoalan tersebut dipandang sebagai isu kemanusiaan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Terkait konflik Iran dan Amerika Serikat, penyandang dua gelar Ph.D dengan fokus riset teologi, filsafat, Quran dan mempelajari agama lain itu menegaskan, yang terpenting bukan sekadar keberpihakan kepada suatu negara, melainkan keberanian menyuarakan kebenaran dan melawan segala bentuk kezaliman. Menurutnya, nilai-nilai keadilan harus menjadi pijakan bersama dalam menyikapi berbagai konflik internasional agar perdamaian yang berkeadilan dapat diwujudkan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan perhatian besar terhadap konsep kedamaian melalui berbagai ajaran yang mendorong manusia untuk beramal saleh. Amal saleh menurutnya, tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual seperti salat dan puasa, tetapi juga segala aktivitas yang menghadirkan kemaslahatan, mulai dari kehidupan bermasyarakat, politik, arsitektur, tata kota, hingga menjaga lingkungan. Kedamaian juga harus dimulai dari diri sendiri, hubungan dengan lingkungan sekitar, serta diwujudkan bagi generasi yang akan datang.
Dr. Yahya menambahkan, dalam perspektif Islam terdapat dua dimensi kedamaian, yakni berdamai dengan masa lalu dan berdamai dengan masa depan. Berdamai dengan masa lalu berarti melanjutkan tradisi-tradisi yang bijaksana sebagai warisan bagi generasi berikutnya, sedangkan berdamai dengan masa depan diwujudkan melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi orang-orang setelah kita. Ia menutup pemaparannya dengan mengajak seluruh peserta memahami Islam secara utuh sebagai agama yang menghadirkan rahmat dan kedamaian bagi seluruh kehidupan, sehingga setiap amal saleh yang dilakukan umat Islam mampu menjadi kontribusi nyata dalam membangun peradaban yang damai. (tia)
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Hubungi Kami
Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.
Alamat
Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172