info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp
Berita

Fenomena Campur Bahasa di Kalangan Gen Z, Begini Pandangan Dosen Bahasa Inggris UM Sumatera Barat

Oleh: Humas UM Sumbar
Rabu, 12 Agustus 2026
02:41:00
Dibaca: 64 kali
Fenomena Campur Bahasa di Kalangan Gen Z, Begini Pandangan Dosen Bahasa Inggris UM Sumatera Barat

Mezia Kemala Sari, M.A

Humas UM Sumatera Barat - Belakangan ini penggunaan Bahasa Indonesia yang bercampur dengan Bahasa Inggris semakin sering ditemukan dalam percakapan sehari-hari generasi muda, khususnya mahasiswa. Ungkapan seperti “aku excited banget”, “sudah upload foto?”, “bantu download dong”, hingga “outfit-mu kalcer banget” kini menjadi bagian dari komunikasi informal yang lazim ditemui, baik dalam percakapan langsung maupun di media sosial.

Terkait hal tersebut, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat Mezia Kemala Sari, M.A menilai fenomena tersebut tidak terlepas dari tingginya paparan generasi muda terhadap Bahasa Inggris melalui media digital. TikTok, Instagram, YouTube, film, musik, hingga permainan daring membuat kosakata Bahasa Inggris semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan campuran bahasa atau code-mixing sebutnya, juga dapat menjadi strategi komunikasi untuk menyampaikan sesuatu secara lebih cepat, akrab, ekspresif, dan sesuai dengan gaya komunikasi kelompok tertentu.

“Fenomena ini bukan sekadar soal Bahasa Inggris yang masuk ke Bahasa Indonesia, tetapi juga berkaitan dengan identitas, gaya komunikasi, dan perkembangan budaya digital anak muda,” jelasnya.

Menurutnya, ungkapan seperti “aku excited banget” bagi sebagian anak muda terasa lebih natural digunakan dalam percakapan santai dibandingkan dengan padanan “aku sangat bersemangat”. Kemudian selain media digital, lingkungan pergaulan turut berperan dalam membentuk kebiasaan tersebut. Istilah seperti deadline, meeting, outfit, update, vibe, literally, random, relate, dan cringe tidak hanya diperoleh dari konten berbahasa Inggris, tetapi kemudian digunakan dan disebarkan melalui interaksi antar teman. Ketika istilah tertentu telah menjadi kebiasaan dalam suatu komunitas, penggunaannya dapat dianggap wajar dan menjadi bagian dari gaya komunikasi kelompok.

Dosen Linguistik dengan Konsentrasi Cyberpragmatik dan Disertasi yang membahas bahasa Gen Z itu menjelaskan, pencampuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam percakapan juga tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang tidak mampu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik. Dalam konteks masyarakat yang menggunakan lebih dari satu bahasa, code-mixing merupakan fenomena yang wajar. Seseorang dapat memilih kata dari bahasa lain karena lebih familiar, lebih ekspresif, atau sesuai dengan identitas dan lingkungan komunikasinya.

Kendati demikian sebutnya, kemampuan memilih bahasa sesuai konteks tetap menjadi hal penting, terutama bagi mahasiswa. Penggunaan campuran bahasa dalam percakapan santai, media sosial, atau lingkungan pertemanan dinilai masih wajar. Namun, ketika berada dalam situasi formal seperti penulisan karya ilmiah, surat resmi, laporan, presentasi akademik, maupun komunikasi kelembagaan, mahasiswa perlu mampu menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan sesuai kaidah. “Yang penting bukan seberapa sering seseorang mencampur bahasa, tetapi apakah ia mampu mengontrol dan menyesuaikan penggunaan bahasa sesuai kebutuhan,” paparnya.

Menurutnya, kebiasaan code-mixing juga tidak otomatis membuat kemampuan seseorang dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris menurun. Pada penutur bilingual atau multilingual, kemampuan berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain justru dapat menunjukkan adanya repertoar linguistik yang luas. Persoalan dapat muncul apabila seseorang terlalu terbiasa menggunakan bahasa campuran hingga kesulitan menggunakan satu bahasa secara konsisten ketika berada dalam situasi akademik atau formal.

Karena itu lanjutnya, mahasiswa tidak perlu menghindari penggunaan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari hanya karena khawatir dianggap meninggalkan Bahasa Indonesia. Hal yang lebih penting adalah memiliki kesadaran terhadap konteks komunikasi. Kemampuan menggunakan bahasa secara santai ketika berbicara dengan teman sekaligus mampu beralih ke bahasa yang lebih baku dalam situasi resmi merupakan bagian dari kompetensi komunikasi yang perlu dimiliki mahasiswa.

Lebih jauh ungkapnya, fenomena pencampuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dipandang tidak hanya sebagai tren sesaat. Perkembangan bahasa selalu berjalan seiring dengan perubahan masyarakat, teknologi, dan budaya yang juga berkaitan dengan sifat manusia sebagai makhluk kreatif. Sebagian istilah yang populer saat ini mungkin hanya menjadi tren dan kemudian menghilang, sementara sebagian lainnya dapat bertahan dan menjadi bagian dari kosakata yang lebih umum digunakan. “Bahasa akan terus berkembang karena manusia selalu mencari cara baru untuk menyampaikan gagasan, membangun identitas, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya,” tuturnya.

Sebagai penutup, disimpulkannya bahwa menggunakan bahasa bukan hanya tentang kata apa yang dipilih, tetapi juga tentang memahami kapan dan kepada siapa bahasa tersebut digunakan. Bagi mahasiswa, mengikuti perkembangan bahasa dan budaya digital tetap dapat berjalan beriringan dengan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan tepat. (tia)

 

Komentar 0

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Hubungi Kami

Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172

Telepon

(0751) 482274