Matcha Menggeser Kopi, Sekadar Tren atau Ada Alasannya?
Salah satu variasi menu matcha (dokumentasi pribadi)
Oleh : Lourena Mutiara Rilda, S.Pd (Staff UPT Humas PPMB UM Sumatera Barat)
Dulu, secangkir kopi hampir selalu menjadi simbol awal hari. Aroma espresso yang kuat, suara mesin kopi di kafe, hingga kebiasaan membawa gelas kopi saat berangkat kuliah atau bekerja menjadi pemandangan akrab. Namun belakangan, ada satu minuman hijau yang perlahan mengambil panggung utama: matcha.
Di media sosial, warna hijaunya yang mencolok memenuhi lini masa. TikTok dipenuhi video “morning matcha routine”, Instagram dipenuhi foto iced strawberry matcha, sementara hampir setiap kedai kopi kini memiliki menu khusus berbahan dasar teh asal Jepang tersebut. Fenomena ini menimbulkan satu pertanyaan menarik : apakah matcha benar-benar mulai menggeser kopi, atau ini hanya tren sesaat yang dipoles algoritma?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Di balik popularitasnya, ada perubahan cara pandang generasi muda terhadap energi, kesehatan dan gaya hidup.

Ritual Jepang menjadi budaya global
Matcha bukanlah minuman baru. Teh hijau bubuk ini telah menjadi bagian dari upacara minum teh Jepang selama lebih dari 800 tahun. Berbeda dengan teh hijau biasa yang hanya diseduh, matcha dibuat dengan menggiling seluruh daun teh menjadi bubuk halus sehingga saat diminum, seluruh kandungan daun ikut dikonsumsi.
Selama bertahun-tahun, matcha dikenal sebagai minuman tradisional. Namun dalam dua dekade terakhir, ia berubah menjadi fenomena global. Media sosial memainkan peran besar dalam perubahan ini. Warna hijaunya yang fotogenik membuat matcha mudah viral, sementara berbagai kreasi seperti matcha latte, dirty matcha, hingga dessert berbahan matcha membuatnya semakin akrab dengan lidah generasi muda.

Kini, banyak kafe bahkan melaporkan bahwa permintaan matcha terus meningkat, bukan hanya sebagai alternatif teh, tetapi sebagai pesaing serius kopi. Perubahan ini ternyata berkaitan dengan perubahan kebutuhan. Jika dulu orang mencari minuman yang mampu “membangunkan”, kini banyak yang mencari minuman yang mampu membuat mereka tetap fokus tanpa merasa gelisah.
Matcha mengandung kafein, tetapi dalam jumlah yang umumnya lebih rendah dibanding secangkir kopi. Yang membuatnya berbeda yakni keberadaan L-theanine, asam amino alami yang hampir eksklusif ditemukan pada daun teh. Senyawa ini membantu memperlambat efek kafein sehingga energi terasa lebih stabil dan tidak terlalu memicu rasa berdebar atau crash setelah beberapa jam. Bagi mahasiswa yang harus mengikuti kuliah berjam-jam, mengerjakan tugas, lalu kembali belajar pada malam hari, sensasi “tenang tapi tetap fokus” inilah yang membuat matcha terasa menarik.
Bukan sekadar hijau, tetapi kaya antioksidan
Popularitas matcha juga didorong citranya sebagai minuman sehat. Kandungan antioksidannya menjadi salah satu alasan utama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa senyawa yang terkandung dalam matcha berpotensi membantu melawan stres oksidatif, mendukung kesehatan jantung, serta berkontribusi terhadap fungsi kognitif. Beberapa uji klinis juga menemukan bahwa konsumsi matcha dapat membantu meningkatkan perhatian dan mengurangi tingkat stres, meskipun manfaatnya tetap bergantung pada pola hidup secara keseluruhan. Namun penting dipahami, matcha bukan minuman ajaib. Ia bukan pengganti tidur yang cukup, olahraga, atau pola makan seimbang.
Kopi sebenarnya belum kalah
Di tengah euforia matcha, kopi justru masih memiliki keunggulan kuat. Penelitian tentang kopi jauh lebih banyak dibanding matcha. Konsumsi kopi dalam jumlah wajar dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, Parkinson, hingga beberapa jenis kanker. Kandungan polifenol dan asam klorogenat pada kopi juga memberikan manfaat kesehatan yang telah diteliti selama bertahun-tahun.
Artinya, pergeseran menuju matcha bukan berarti kopi menjadi pilihan yang buruk. Keduanya memiliki manfaat masing-masing. Perbedaannya lebih banyak terletak pada pengalaman yang diinginkan seseorang.
Matcha menjual sebuah gaya hidup
Ada satu faktor lain yang tidak bisa diabaikan: estetika. Matcha hadir bersamaan dengan munculnya berbagai tren seperti clean girl aesthetic, morning routine, slow living, hingga wellness lifestyle. Secangkir matcha seringkali tampil bersama buku, jurnal, sinar matahari pagi, dan meja kerja yang rapi.
Dengan kata lain, yang dijual bukan hanya minumannya, tetapi cerita di baliknya. Fenomena ini terlihat jelas di media sosial. Matcha berkembang menjadi bagian dari identitas digital seseorang, yakni simbol hidup yang dianggap lebih sadar kesehatan, lebih tenang, dan lebih “mindful”.

Apakah ini hanya tren sesaat?
Jika melihat perkembangan pasar, jawabannya cenderung tidak. Matcha kini tidak lagi terbatas pada minuman panas. Ia hadir dalam bentuk es krim, roti, kue, biskuit, smoothie, hingga minuman siap saji. Inovasi produk terus berkembang karena permintaan konsumen juga meningkat. Bahkan meningkatnya permintaan global sempat menyebabkan keterbatasan pasokan dari beberapa produsen Jepang, menunjukkan bahwa popularitasnya telah melampaui sekadar viral sesaat.
Mana yang lebih baik?
Sebenarnya, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah “kopi atau matcha lebih baik?”, melainkan “apa yang dibutuhkan tubuh kita?”
Pilihan akhirnya sangat bergantung pada kondisi tubuh, toleransi terhadap kafein, serta tujuan mengonsumsinya. Pada akhirnya fenomena matcha menunjukkan bahwa gaya hidup anak muda sedang berubah. Kini, orang tidak hanya mencari minuman yang membuat mata terbuka, tetapi juga dianggap mampu menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran. Di balik warna hijaunya yang estetik, matcha memang memiliki alasan ilmiah yang membuatnya menarik. Namun, bukan berarti kopi kehilangan tempat. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing, dan tidak ada satu minuman yang otomatis lebih unggul untuk semua orang.
Mungkin secangkir minuman bukan lagi sekadar soal rasa. Ia menjadi cerminan bagaimana generasi saat ini memaknai produktivitas: bukan sekedar bekerja lebih keras, tetapi juga mencari cara agar tetap fokus, tenang dan menikmati proses dalam menjalani hari.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Hubungi Kami
Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.
Alamat
Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172