info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp
Berita

Ketika Cinta Memerlukan Takaran

Oleh: Humas UM Sumbar
Jumat, 21 Agustus 2026
09:29:00
Dibaca: 143 kali
Ketika Cinta Memerlukan Takaran

Oleh : Dr. Firdaus, M.H.I (Dosen Pascasarjana Hukum Keluarga UM Sumatera Barat)

Dosis cinta dapat dimaknai sebagai cara mencintai yang mengikuti petunjuk Allah, yakni menempatkan setiap objek cinta sesuai kadar yang benar. Dalam Surah Ali Imran ayat 14, Allah berfirman bahwa manusia dijadikan mencintai berbagai kesenangan dunia, seperti perempuan, anak-anak, harta berupa emas dan perak, kendaraan, binatang ternak, serta sawah ladang. Semua itu merupakan bagian dari kenikmatan hidup di dunia, namun Allah mengingatkan bahwa di sisi-Nyalah tempat kembali yang terbaik.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kecenderungan mencintai berbagai kenikmatan dunia bukanlah sesuatu yang terlarang. Perasaan itu merupakan fitrah manusia yang memang diciptakan demikian. Akan tetapi, persoalan muncul ketika sedikit orang menyadari bahwa cinta yang tidak terukur dapat membawa dampak buruk, meskipun tanda-tandanya sudah tampak di sekitar kehidupan. Tidak jarang seseorang tetap menyukai sesuatu yang sebenarnya ia ketahui dapat merugikan dirinya. Sebaliknya, ketika seseorang menyadari bahwa sesuatu itu tidak baik baginya, ia masih memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari pengaruh tersebut.

Karena itulah Allah menjadikan kecintaan terhadap harta dan berbagai kesenangan sebagai ujian keimanan. Ujian itu terletak pada pilihan manusia: apakah seluruh nikmat tersebut hanya digunakan untuk kepentingan dunia semata, atau justru dijadikan sarana untuk meraih keridaan Allah. Dengan demikian, ukuran keberhasilan bukan terletak pada banyaknya kenikmatan yang dimiliki, melainkan pada bagaimana seseorang mengelolanya sesuai petunjuk-Nya.

Di antara berbagai objek cinta yang disebutkan dalam ayat tersebut, perempuan atau istri menjadi tempat berlabuhnya kasih sayang seorang laki-laki. Secara fitrah, hati manusia memang cenderung tertuju kepada pasangan hidupnya. Tidak sedikit laki-laki yang mengerahkan tenaga dan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan tanggung jawab laki-laki sebagai pembimbing dan pelindung keluarga, sebagaimana kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka.

Namun demikian, cinta kepada istri pun memiliki dosis yang perlu dijaga. Ketika rasa cinta berubah menjadi berlebihan hingga melampaui batas yang dibenarkan, keseimbangan hak dan kewajiban dalam keluarga dapat terganggu, bahkan berdampak pada kehidupan sosial yang lebih luas. Gambaran yang sering terjadi adalah seorang suami yang telah memiliki istri dengan segala kelebihan yang dimilikinya, tetapi tetap tergoda kepada perempuan lain, baik yang masih lajang maupun telah menjadi janda, hingga akhirnya menempuh jalan cinta terlarang. Di titik inilah cinta tidak lagi berada pada kadar yang semestinya.

Menariknya, dalam ayat tersebut Allah menyebutkan perempuan lebih dahulu daripada anak-anak. Hal ini dapat dipahami sebagai isyarat bahwa cinta kepada pasangan memiliki potensi lebih besar untuk melampaui batas, sedangkan cinta kepada anak umumnya lebih bersifat naluriah dan jarang berkembang menjadi kecintaan berlebihan seperti halnya ketertarikan kepada perempuan.

Di sisi lain, ayat ini juga memberikan harapan bahwa ketika seseorang memilih pasangan karena Allah—seorang perempuan yang bukan hanya cantik menurut ukuran manusia yang relatif, tetapi juga salehah, cerdas, taat dan mampu menjalani kehidupan dengan baik—maka pasangan itu akan menjadi teman dalam mengelola seluruh bentuk cinta lainnya. Bersama-sama mereka dapat mengarahkan kasih sayang kepada anak-anak, mengelola harta, memanfaatkan kendaraan, memelihara ternak, hingga mengusahakan sawah ladang sebagai amanah, bukan sekadar kenikmatan dunia.

Pada akhirnya, konsep dosis cinta mengajarkan bahwa semua objek cinta memiliki tempatnya masing-masing. Tidak ada yang salah dengan mencintai pasangan, anak, harta, atau berbagai nikmat dunia lainnya, selama semuanya ditempatkan sesuai petunjuk Allah. Dari keseimbangan itulah akan tumbuh keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah, di mana seluruh bentuk cinta hadir dalam kadar yang tepat dan mengantarkan pemiliknya kepada keridaan Allah.

 

Komentar 0

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Hubungi Kami

Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172

Telepon

(0751) 482274