info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp
Berita

Banyak Obat Viral di TikTok, Dekan Farmasi UM Sumatera Barat Ingatkan Jangan Mudah Percaya

Oleh: Humas UM Sumbar
Senin, 24 Agustus 2026
11:14:00
Dibaca: 73 kali
Banyak Obat Viral di TikTok, Dekan Farmasi UM Sumatera Barat Ingatkan Jangan Mudah Percaya

Humas UM Sumatera Barat – Maraknya informasi mengenai obat dan kesehatan di media sosial, khususnya TikTok, membuat masyarakat semakin mudah memperoleh berbagai rekomendasi terkait penggunaan obat. Namun, kemudahan tersebut perlu diiringi sikap kritis agar masyarakat tidak serta-merta mempercayai informasi hanya karena sebuah konten viral dan mendapat banyak penayangan. Terkait hal ini, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat, apt. Ridha Elvina, M.Farm., mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dan teliti dalam menyikapi informasi obat yang beredar di media sosial.

Menurutnya, media sosial saat ini telah menjadi sarana komunikasi, informasi, sekaligus hiburan yang banyak digunakan masyarakat dari berbagai kelompok usia. TikTok memiliki karakter yang cepat, visual, interaktif, dan mampu menjangkau masyarakat dalam jumlah besar sehingga informasi mengenai obat dapat menyebar dengan mudah. Berbagai konten berupa pengalaman pribadi, tips kesehatan, perbandingan sebelum dan sesudah penggunaan produk, hingga klaim manfaat obat dapat menarik perhatian dan dibagikan berulang kali. Algoritma media sosial juga cenderung memperluas jangkauan konten yang memperoleh banyak interaksi.

“Informasi tentang obat semakin mudah diketahui, bahkan dapat viral karena memiliki karakter yang cepat, visual, interaktif, dan mampu menjangkau masyarakat dalam jumlah besar. Berbagai konten berupa pengalaman pribadi, tips kesehatan, sebelum dan sesudah penggunaan produk, maupun klaim manfaat obat dapat menarik perhatian dan dibagikan berulang kali,” jelasnya.

Kendati demikian, ia menilai media sosial juga memiliki peluang besar sebagai sarana edukasi kesehatan kepada masyarakat. Informasi mengenai obat dapat disampaikan secara sederhana, menarik dan mudah dipahami. Menurutnya, edukasi melalui media sosial perlu didasarkan pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak berubah menjadi promosi atau anjuran penggunaan obat secara sembarangan. Kehadiran konten edukasi yang tepat juga diharapkan dapat mendorong masyarakat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, khususnya apoteker, sebelum menggunakan obat.

Ia menegaskan, masyarakat tidak boleh menjadikan viralnya suatu obat sebagai alasan langsung mempercayai atau menggunakannya. Banyaknya jumlah penayangan, komentar, maupun testimoni pengguna bukan merupakan bukti suatu obat aman dan efektif untuk semua orang. Setiap individu memiliki usia, kondisi kesehatan, riwayat penyakit, alergi, fungsi organ, serta respons tubuh yang berbeda terhadap obat.

“Pengalaman pribadi seseorang tidak bisa disamakan dengan semua individu lainnya. Jika hanya berdasarkan rekomendasi dari media sosial, dapat menyebabkan salah obat, dosis yang tidak tepat, efek samping, interaksi obat, keterlambatan mendapatkan terapi yang benar, hingga penggunaan obat yang sebenarnya tidak diperlukan,” ujarnya.

Risiko juga dapat muncul ketika masyarakat membeli obat dari sumber yang tidak resmi. Menurutnya, penggunaan obat berdasarkan konten yang tidak jelas sumbernya dapat meningkatkan kemungkinan memperoleh produk ilegal, palsu, rusak, atau tidak terjamin mutu dan keamanannya. Masyarakat juga perlu mewaspadai konten dengan klaim berlebihan seperti “pasti sembuh”, “tidak ada efek samping”, atau “cocok untuk semua orang”. Konten edukasi yang dapat dipercaya seharusnya mencantumkan identitas narasumber, memiliki dasar rujukan ilmiah, menjelaskan manfaat sekaligus risiko, serta tidak menjanjikan hasil yang mutlak.

Dirinya menjelaskan, sebelum menggunakan obat, masyarakat perlu memahami kandungan zat aktif, mekanisme kerja, indikasi, dosis, kontraindikasi, efek samping, serta kemungkinan interaksi dengan obat lain. Pemahaman tersebut penting karena penggunaan obat yang tidak sesuai dapat membuat terapi tidak efektif atau justru menimbulkan masalah kesehatan. “Di dalam suatu obat terdapat kandungan zat aktif yang bekerja pada reseptornya atau target kerjanya, memiliki mekanisme kerja, indikasi, dosis, dan efek samping. Penggunaan tanpa memahami hal tersebut dapat menyebabkan terapi tidak efektif atau justru menimbulkan masalah kesehatan. Obat dapat menjadi terapi dan dapat juga menjadi racun jika tidak diatur oleh dosis,” jelasnya.

Untuk memastikan keamanan obat yang akan dibeli maupun digunakan lanjutnya, masyarakat juga dapat menerapkan prinsip KLIK dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yaitu Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa. Kemasan perlu dipastikan masih baik, utuh, dan tidak rusak. Label harus dibaca dengan teliti untuk mengetahui karakteristik produk, sementara izin edar perlu diperiksa untuk memastikan produk telah terdaftar di BPOM. Masyarakat juga harus memastikan obat belum melewati masa kedaluwarsa.

Di tengah derasnya informasi obat di media sosial, dirinya menilai apoteker dan tenaga kefarmasian memiliki posisi strategis sebagai sumber informasi kesehatan yang terpercaya dan mudah diakses masyarakat. Apoteker tidak hanya berperan dalam membantu masyarakat memperoleh obat yang tepat, tetapi juga memberikan edukasi mengenai penggunaan, penyimpanan, dan pembuangan obat yang benar. Selain itu, apoteker dapat membantu mengklarifikasi informasi yang keliru atau hoaks serta mengarahkan masyarakat kepada layanan kesehatan yang sesuai.

Khusus bagi mahasiswa dan generasi Z yang sangat aktif menggunakan media sosial, ia mengajak agar tidak mudah terbawa tren atau fear of missing out (FOMO) terhadap obat yang sedang viral. Sikap kritis dapat dimulai dengan membaca informasi secara utuh, mencari sumber rujukan, membandingkannya dengan sumber resmi, serta memastikan kompetensi pembuat konten sebelum mempercayai atau membagikan informasi. Ia juga mendorong mahasiswa dan Gen Z untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi turut menjadi bagian dari solusi dengan membuat dan membagikan konten kesehatan yang akurat, bertanggung jawab, dan tidak menyesatkan.

“Biasakan cek sebelum percaya dan cek sebelum berbagi. Jangan langsung mempercayai atau menyebarkan konten hanya karena viral. Jika menemukan klaim yang menakutkan atau kontroversial, lakukan verifikasi terlebih dahulu dan jangan mengambil keputusan pengobatan secara impulsif. Media sosial dapat menjadi sarana memperoleh informasi, tetapi bukan sebagai pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan, khususnya tenaga kefarmasian,” pungkasnya. (tia)

Komentar 0

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Hubungi Kami

Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172

Telepon

(0751) 482274