info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp
Berita

Hadiri PIM Nasional IMM, Wakil Rektor III UM Sumatera Barat Dorong Transformasi Perkaderan di Era Hyperconnectivity

Oleh: Humas UM Sumbar
Kamis, 27 Agustus 2026
11:36:00
Dibaca: 19 kali
Hadiri PIM Nasional IMM, Wakil Rektor III UM Sumatera Barat Dorong Transformasi Perkaderan di Era Hyperconnectivity

Humas UM Sumatera Barat – Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat Dr. Ahmad Lahmi, MA menghadiri Pelatihan Instruktur Madya (PIM) Nasional Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumatera Barat, Rabu (26/8) di Hall D UM Sumatera Barat kampus Padang. Acara bertajuk "Akselerasi ekosistem perkaderan transformatif di era Hyperconnetivity" tersebut turut dihadiri Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat, Forum Komunikasi IMM Sumatera Barat dan stakeholder terkait lainnya.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor III UM Sumatera Barat Dr. Ahmad Lahmi, MA menyoroti pandangan umum yang menilai mahasiswa saat ini mengalami penurunan minat mengikuti organisasi di kampus. Namun, menurutnya, jika ditelisik lebih dalam dengan memperhatikan perubahan karakter generasi dari generasi milenial menuju Generasi Z dan Generasi Alpha, sebenarnya organisasi bukan tidak lagi diminati, tetapi standar relevansinya yang berubah.

Perubahan tersebut jelasnya, perlu menjadi perhatian organisasi mahasiswa, termasuk IMM, dalam merancang pola perkaderan. Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam lingkungan yang sangat terkoneksi secara digital. Berdasarkan materi yang dipaparkan, terdapat sekitar 221,56 juta pengguna internet di Indonesia dengan penetrasi mencapai 79,5 persen, sementara penetrasi internet pada Generasi Z mencapai 87 persen. “Kondisi tersebut menunjukkan, ruang fisik dan ruang digital kini tidak lagi dapat dipisahkan dalam kehidupan mahasiswa.

"Organisasi harus selalu beradaptasi dengan karakter generasi Z dan Alpha. Salah satu tandanya adalah apakah suara mereka dihargai dan tentu saja apakah organisasi memberikan makna dan relevansi kesejahteraan psikologis kepada mereka," ujarnya. Menurutnya, aktivitas organisasi seperti rapat, publikasi, rekrutmen, diskusi hingga pembentukan identitas kini berlangsung secara simultan di ruang offline dan online. Internet bukan lagi ruang tambahan dalam kehidupan sosial mahasiswa, tetapi telah menjadi infrastruktur kehidupan sosial mereka.

Lebih lanjut, ia memaparkan adanya pergeseran karakteristik antargenerasi yang perlu dipahami dalam proses perkaderan. Generasi sebelumnya atau generasi analog cenderung adaptif terhadap teknologi, menjadikan institusi dan buku sebagai sumber pengetahuan, serta terbiasa dengan struktur dan loyalitas organisasi. Sementara Generasi Z lebih dekat dengan mesin pencari dan platform digital, mengutamakan relevansi serta pengalaman, menghendaki kepemimpinan kolaboratif dan memiliki motivasi yang berkaitan dengan makna, pertumbuhan serta rasa memiliki. Adapun Generasi Alpha diproyeksikan semakin dekat dengan komunitas digital dan kecerdasan buatan, mengedepankan personalisasi, kepemimpinan yang terhubung, serta agency dan kreativitas.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat organisasi perlu melakukan reorientasi filosofis, dari sekadar membangun sistem perkaderan menuju pengembangan ekosistem perkaderan. Sistem perkaderan yang hanya berpusat pada event, berhenti setelah kegiatan, dan menempatkan evaluasi pada kehadiran dinilai perlu dikembangkan menjadi perjalanan pengembangan kader yang berkelanjutan. Ekosistem perkaderan harus menghadirkan continuous developmental journey melalui komunitas belajar, regenerasi, refleksi, proyek isu, praktik kepemimpinan, dampak sosial, serta lingkungan yang suportif.

Ia juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan organisasi tidak semata-mata terletak pada banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi pada sejauh mana organisasi mampu memberikan pengalaman yang bermakna bagi kader. Dalam konteks tersebut, terdapat sejumlah pertanyaan penting yang perlu dijawab organisasi, antara lain apakah organisasi memberi ruang untuk berkembang, memiliki dampak nyata, serta membuat suara kader dihargai. Hal ini menjadi penting karena Generasi Z menempatkan otonomi dan relevansi sebagai prioritas, sementara kesejahteraan mental menjadi salah satu perhatian besar di kalangan generasi tersebut.

Sebagai bentuk model perkaderan transformatif, dirinya memperkenalkan enam elemen yang dapat menjadi perhatian dalam membangun ekosistem perkaderan IMM, yakni digital presence, meaningful belonging, adaptive learning, issue-based activism, mentoring network, dan impact-based leadership. Keenam elemen tersebut menempatkan kehadiran digital berbasis nilai, rasa memiliki yang bermakna, pembelajaran yang fleksibel, gerakan berbasis isu, jejaring pendampingan personal, serta kepemimpinan yang berorientasi pada dampak sebagai bagian penting dalam proses pembentukan kader.

Melalui PIM Nasional IMM tersebut, ia berharap proses perkaderan mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan ruh ideologis organisasi. Perkaderan tidak cukup hanya menghasilkan kader yang mampu menjalankan agenda organisasi, tetapi juga perlu membentuk kader yang adaptif, reflektif, kolaboratif, memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial, serta mampu menghadirkan dampak nyata. Dengan demikian, akselerasi ekosistem perkaderan transformatif dapat menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan IMM sekaligus memastikan organisasi tetap relevan bagi generasi yang terus berubah. (tia)

 

Komentar 0

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Hubungi Kami

Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172

Telepon

(0751) 482274