info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp
Berita

Jangan Sepelekan Kabut Asap, Dosen Fakes UM Sumatera Barat Ingatkan Bahaya yang Bisa Mengintai Kesehatan

Oleh: Humas UM Sumbar
Selasa, 08 September 2026
02:27:00
Dibaca: 156 kali
Jangan Sepelekan Kabut Asap, Dosen Fakes UM Sumatera Barat Ingatkan Bahaya yang Bisa Mengintai Kesehatan

Kondisi kabut asap di Kota Padang, Sumatera Barat

Humas UM Sumatera Barat – Kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Barat, terutama Kota Padang beberapa waktu belakangan menjadi perhatian dari sisi kesehatan masyarakat. Terkait kondisi tersebut, Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat, Yuliza Anggraini, S.ST, M.Keb mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap serta menggunakan alat pelindung diri, khususnya masker, ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

Dirinya menjelaskan, sumber asap dapat berasal dari berbagai hal. Antara lain kombinasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi sekitar Sumatera Barat yang terbawa pergerakan angin serta adanya erupsi Gunung Krakatau yang memicu penyebaran asap ke berbagai wilayah, salah satunya Sumatera Barat. Asap yang keluar dari erupsi gunung dapat berasal dari abu vulkanik, gas, magma dan berbagai material lainnya yang membawa partikel berbahaya. Jika terhirup manusia, paparan tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan. Dalam jangka pendek, paparan dapat menyebabkan masalah pada saluran pernapasan, iritasi pada mata, kulit, THT, dan pencernaan. Sementara efek jangka panjangnya dapat menyebabkan masalah pada paru-paru, gangguan pada jantung, tulang, hingga kematian.

Dari sisi sistem pernapasan lanjutnya, paparan asap dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Beberapa di antaranya adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), batuk, sesak napas, hingga kekambuhan asma. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama ketika kualitas udara sedang menurun dan paparan asap berlangsung dalam waktu tertentu.

Penggunaan masker, menurutnya, menjadi salah satu langkah antisipasi penting dilakukan masyarakat. Masker berfungsi untuk menyaring partikel halus, melindungi saluran pernapasan dan wajah, serta mengurangi dosis paparan terhadap asap dan partikel yang terhirup. Karena itu, masyarakat dianjurkan tidak mengabaikan penggunaan masker ketika berada di lingkungan dengan kondisi udara yang dipengaruhi kabut asap.

“Untuk jenis masker, masyarakat disarankan menggunakan masker N95 atau KN95. Masker tersebut memiliki filter dan dirancang rapat pada wajah sehingga asap, debu, maupun partikel lebih sulit masuk dan terhirup. Sementara itu, masker kain sangat tidak dianjurkan karena memiliki pori-pori yang kasar sehingga debu atau abu lebih mudah masuk dan terhirup,” tuturnya.

Kelompok masyarakat yang perlu mendapat perhatian lebih terhadap paparan kabut asap kata dia, antara lain anak usia di bawah lima tahun atau balita, lansia usia 60 tahun ke atas, ibu hamil, penderita penyakit kronis, pekerja lapangan, anak sekolah dan kelompok lainnya yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan. Kelompok tersebut dinilai lebih rentan sehingga perlu melakukan upaya perlindungan diri secara lebih optimal.

Untuk itu dirinya mengingatkan agar masyarakat juga perlu mengenali berbagai gejala yang dapat muncul akibat paparan kabut asap. Gejala tersebut antara lain batuk, sesak napas, ISPA, mata perih akibat iritasi dan berair, iritasi pada kulit berupa gatal, perih, dan ruam, sakit pada tenggorokan, serta peradangan. Jika memungkinkan, masyarakat disarankan melakukan aktivitas di dalam rumah. Namun apabila memang harus keluar rumah, seperti pergi ke pasar, sekolah, maupun berolahraga, sebaiknya menggunakan masker yang terstandar seperti N95 serta memperbanyak minum air putih.

“Untuk menjaga kondisi udara di dalam rumah, masyarakat dianjurkan menutup rapat pintu, jendela, dan ventilasi yang besar karena debu dan asap biasanya dapat masuk melalui celah pintu, jendela, maupun ventilasi. Masyarakat juga disarankan menghindari menjemur pakaian di luar ruangan dan menjaga kelembapan udara di dalam rumah. Salah satu cara yang dapat dilakukan, misalnya dengan menghidupkan kipas dengan menempelkan kain yang agak basah di belakangnya. Selain itu, masyarakat dapat menanam tanaman yang dapat menyerap debu, seperti lidah mertua dan sirih gading. Upaya lain yang tidak kalah penting adalah tidak menambah polusi di lingkungan, misalnya dengan tidak merokok dan tidak membakar sampah,” terangnya.

Dirinya juga mengingatkan masyarakat untuk segera mendapatkan pertolongan medis apabila telah menunjukkan gejala berat. Kondisi yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas berat, napas cepat dan berbunyi, nyeri dada, batuk berdarah, bibir dan kuku kebiruan, demam lebih dari 38 derajat Celsius selama lebih dari dua hari berturut-turut, pusing hebat, mual dan muntah, pingsan, mata perih hingga tidak dapat dibuka, serta tiba-tiba merasa lemas dan tidak mau makan. Apabila gejala tersebut muncul, masyarakat disarankan segera menuju rumah sakit atau fasilitas kesehatan.

Sebagai langkah pencegahan, dirinya mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan masker yang terstandar, seperti N95, ketika beraktivitas di luar rumah dan menggunakan kacamata sebagai perlindungan tambahan. Aktivitas berat di luar rumah juga sebaiknya dihindari, disertai dengan memperbanyak minum air putih, mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, serta mencukupi kebutuhan istirahat selama 7–8 jam sehari. Masyarakat juga dianjurkan menyediakan stok obat emergensi, menjaga kebersihan diri, serta memantau kualitas udara melalui informasi dari aplikasi atau sumber resmi, seperti BMKG. Dengan langkah-langkah tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko kesehatan akibat paparan kabut asap. (tia)

Komentar 0

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Hubungi Kami

Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172

Telepon

(0751) 482274