Kabut Asap Mengancam Hewan, Dosen Kedokteran Hewan UM Sumatera Barat Ungkap Tanda yang Wajib Diwaspadai
Humas UM Sumatera Barat - Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Barat, terutama Kota Padang, tidak hanya menjadi perhatian dari sisi kesehatan manusia. Kondisi kualitas udara yang buruk juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan hewan, baik hewan peliharaan maupun hewan ternak. Terkait kondisi tersebut, Dosen Kedokteran Hewan Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat, Drh. Usma Aulia, M.Si mengingatkan masyarakat dan pemilik hewan untuk turut memperhatikan kondisi hewan selama kabut asap berlangsung.
Dirinya menjelaskan, kabut asap dapat menyebabkan hewan menghirup udara yang mengandung partikel halus dan berbagai gas iritan. Partikel tersebut dapat masuk hingga ke saluran pernapasan bagian dalam dan menyebabkan peradangan serta gangguan pertukaran gas. Paparan dalam waktu singkat dapat menimbulkan iritasi mata dan saluran pernapasan serta menyebabkan kesulitan bernapas. Sementara paparan lebih lama atau dengan konsentrasi tinggi dapat menurunkan kondisi kesehatan, daya tahan tubuh, nafsu makan, pertumbuhan, produktivitas dan kesejahteraan hewan. Hewan dengan usia sangat muda, lanjut usia, atau yang sudah memiliki gangguan pernapasan cenderung lebih rentan.
Menurutnya, asap dapat mengandung sejumlah zat yang berisiko bagi kesehatan hewan ketika terhirup atau terpapar. Beberapa di antaranya adalah karbon monoksida (CO), nitrogen oksida, sulfur dioksida (SO?), senyawa organik volatil, serta berbagai senyawa hasil pembakaran. Paparan terhadap berbagai zat tersebut dapat memengaruhi kondisi kesehatan hewan, terutama apabila terjadi dalam konsentrasi tinggi atau berlangsung dalam waktu lama.
Pada sistem pernapasan tuturnya, gangguan yang dapat terjadi antara lain iritasi hidung dan tenggorokan, bersin, batuk, peningkatan produksi lendir, sesak atau kesulitan bernapas, napas menjadi lebih cepat, serta peradangan saluran pernapasan. Pada paparan berat, dapat terjadi penurunan kemampuan pertukaran oksigen dan gangguan fungsi paru. Sementara pada hewan yang sebelumnya telah memiliki penyakit saluran pernapasan, paparan kabut asap dapat memperburuk kondisi tersebut.
Tingkat kerentanan terhadap kabut asap kata dia, juga dapat berbeda antara satu jenis hewan dengan lainnya. Hal tersebut dipengaruhi anatomi dan fisiologi sistem pernapasan, ukuran tubuh, umur, kondisi kesehatan, serta lama dan intensitas paparan. “Unggas misalnya, memiliki sistem pernapasan yang sangat efisien tetapi kompleks sehingga kualitas udara buruk dapat menjadi masalah serius. Pada sapi dan kambing, paparan asap juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan menurunkan performa. Sementara anjing dan kucing yang tinggal di lingkungan dengan kualitas udara buruk dapat mengalami iritasi dan gangguan pernapasan, terutama jika memiliki penyakit sebelumnya,” terangnya.
Untuk itu dirinya mengingatkan agar pemilik hewan perlu mengenali tanda-tanda ketika hewan mulai mengalami gangguan akibat paparan kabut asap. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain batuk atau bersin berulang, mata merah, berair atau sering mengedip, keluarnya cairan dari hidung, napas lebih cepat atau tampak berat, bernapas dengan mulut terbuka, lesu dan kurang aktif, serta nafsu makan menurun. Hewan juga dapat lebih banyak beristirahat dan mengalami penurunan performa atau produksi, khususnya pada hewan ternak. Pada kondisi berat, gusi atau lidah dapat tampak kebiruan akibat kekurangan oksigen.
Lebih lanjut paparnya, kabut asap tidak hanya memengaruhi sistem pernapasan hewan, tetapi juga dapat berdampak terhadap nafsu makan, aktivitas, pertumbuhan, produktivitas, dan perilaku. Hewan yang mengalami iritasi saluran pernapasan atau kekurangan oksigen dapat menjadi lebih lemah dan kurang aktif sehingga menyebabkan penurunan nafsu makan dan konsumsi pakan. “Pada hewan ternak, apabila berlangsung cukup lama, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap penurunan pertumbuhan, efisiensi produksi, produksi susu, produksi telur, bobot badan, dan performa reproduksi, tergantung spesies, tingkat paparan, serta faktor lingkungan lainnya. Hewan juga dapat menunjukkan perubahan perilaku seperti lebih banyak diam atau menghindari aktivitas,” terangnya.
Untuk mengurangi risiko tersebut kata dia, prioritas utama yang perlu dilakukan pemilik hewan dan peternak adalah mengurangi paparan hewan terhadap udara tercemar. Hewan peliharaan sebaiknya ditempatkan di area terlindung dan memiliki kualitas udara lebih baik, sementara aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama ketika asap sangat pekat. Pada peternakan, kandang perlu dijaga tetap bersih, kering dan memiliki ventilasi yang baik tanpa secara langsung memasukkan asap dari luar. Air minum harus selalu tersedia dan pakan diberikan dengan kualitas baik. Peternak juga perlu memantau kondisi kesehatan dan produktivitas hewan setiap hari.
Ketika kabut asap tebal atau kualitas udara sangat buruk lanjutnya, hewan sebaiknya tidak dibiarkan berada di luar tanpa perlindungan dan perlu dipindahkan ke tempat yang terlindung dari asap. Kandang yang ideal harus memiliki ventilasi cukup tetapi tidak menjadi jalur masuk asap secara berlebihan, sirkulasi udara yang baik, kepadatan hewan yang tidak terlalu tinggi, kondisi kandang bersih dan kering, sumber air minum yang cukup, serta paparan debu dan amonia yang rendah. “Namun, kandang juga tidak dianjurkan ditutup rapat tanpa ventilasi karena dapat menyebabkan akumulasi panas, kelembapan, debu, dan ammonia,” katanya.
Dia mengingatkan, pemilik hewan perlu segera berkonsultasi dengan dokter hewan apabila hewan menunjukkan kesulitan bernapas, napas sangat cepat atau berat, bernapas dengan mulut terbuka secara tidak normal, kelemahan berat, tidak mau makan atau minum, penurunan kesadaran, batuk yang semakin berat, atau perubahan warna gusi maupun lidah menjadi kebiruan. Pada hewan ternak, penurunan kondisi tubuh secara cepat, penurunan produksi signifikan, atau munculnya banyak hewan dengan gejala pernapasan juga perlu segera dilaporkan dan dikonsultasikan kepada dokter hewan.
Sebagai langkah perlindungan, ia mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap hewan tidak terdampak hanya karena mereka tidak dapat menyampaikan keluhannya. Selama kabut asap berlangsung, pemilik perlu mengurangi paparan hewan terhadap udara tercemar, menyediakan tempat berlindung dengan kualitas udara lebih baik, memastikan air minum dan pakan tersedia serta memantau kondisi hewan secara rutin. Jika muncul tanda gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan memburuk, masyarakat disarankan tidak menunggu hingga gejala menjadi parah dan segera berkonsultasi dengan dokter hewan. Pemilik juga perlu mengikuti informasi kualitas udara dan perkembangan kabut asap dari sumber resmi untuk menentukan tindakan perlindungan yang tepat.
“Lindungi hewan dari asap sebagaimana kita melindungi diri sendiri: kurangi paparan, sediakan udara yang lebih bersih, cukupkan air dan pakan, pantau gejala, dan segera hubungi dokter hewan jika kondisi memburuk,” pungkasnya. (tia)
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Hubungi Kami
Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.
Alamat
Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172