Ketika Udara dan Air Bersih Menjadi Kemewahan
Oleh: Reyhan Respati, S.Psi (Tendik UM Sumatera Barat)
Alhamdulillah, hujan deras yang mengguyur Sumatera Barat akhirnya membuat kabut asap menghilang, setidaknya untuk sementara. Namun, rasa lega itu segera disertai kabar buruk tentang banjir parah di Kota Padang, khususnya kawasan Lubuk Minturun. Ketika cuaca cerah, masyarakat dihadapkan pada kabut asap. Ketika hujan turun, sebagian masyarakat justru harus berhadapan dengan banjir. Belum lagi persoalan air Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) yang tidak selalu mengalir ketika dibutuhkan.
Begitulah ironi yang dirasakan masyarakat. Untuk memperoleh udara bersih dan air bersih saja, kita seolah harus terus berjuang sendiri. Padahal, keduanya bukan kemewahan. Udara bersih dan air bersih adalah kebutuhan dasar manusia. Ketika kebutuhan paling mendasar ini tidak terpenuhi secara layak, persoalannya bukan sekadar gangguan lingkungan atau infrastruktur, melainkan juga menyangkut kesehatan, kesejahteraan psikologis, produktivitas, dan tanggung jawab negara terhadap warganya.
Pertanyaannya sederhana, jika kebutuhan dasar manusia saja masih menjadi persoalan yang terus berulang, sejauh mana negara telah menjalankan tanggung jawabnya untuk melindungi masyarakat?
Kebutuhan Dasar dan Kesejahteraan Psikologis
Dalam teori hierarki kebutuhan yang dicetuskan Abraham Maslow, menjelaskan bahwa kebutuhan fisiologis, seperti bernapas dan memperoleh air, merupakan fondasi dasar kehidupan manusia. Kebutuhan ini berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan berikutnya, termasuk rasa aman dan pengembangan diri. Teori Maslow memang tidak menjelaskan seluruh perilaku manusia secara mutlak. Namun, gagasan dasarnya relevan untuk memahami bahwa kehidupan yang sejahtera sulit diwujudkan ketika kebutuhan paling mendasar terus terancam.
Bagaimana seseorang dapat bekerja dengan tenang jika setiap hujan deras menimbulkan kekhawatiran rumahnya akan terendam? Bagaimana anak-anak dapat belajar dengan nyaman ketika lingkungan tempat tinggal mereka berulang kali dilanda banjir? Bagaimana keluarga dapat merencanakan masa depan jika tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit harus kembali digunakan untuk memperbaiki kerusakan?
Persoalan serupa muncul ketika kabut asap mengganggu aktivitas masyarakat atau pasokan air bersih terhenti. Kegiatan sehari-hari menjadi sulit, produktivitas terganggu, dan rasa aman berkurang. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung bahkan dapat berubah menjadi sumber kecemasan ketika hujan datang.
Stevan E. Hobfoll melalui Conservation of Resources Theory menjelaskan bahwa stres dapat muncul ketika sumber daya yang dianggap berharga terancam hilang atau benar-benar hilang. Sumber daya tersebut mencakup harta benda, penghasilan, waktu, energi, pekerjaan, dan rasa aman.
Tentu, tidak setiap orang yang mengalami bencana akan mengalami gangguan psikologis. Namun, ancaman dan kerugian yang berulang dapat meningkatkan risiko stres, terutama ketika kemampuan untuk pulih sangat terbatas.
Karena itu, keberhasilan penanganan bencana tidak cukup dinilai dari surutnya air atau dibagikannya bantuan. Kita juga perlu memperhatikan apakah masyarakat telah memperoleh kembali rasa aman dan kemampuan untuk menjalani kehidupan secara layak.
Bantuan Penting, Tetapi Pencegahan Lebih Dibutuhkan.
Setelah bencana terjadi, kita mungkin kembali melihat pejabat turun ke lapangan, menyerahkan bantuan, meninjau rumah warga, atau bergotong royong bersama masyarakat. Untuk itu, tentu kita patut mengucapkan terima kasih. Bantuan dalam keadaan darurat sangat berarti bagi warga yang sedang kesusahan. Namun, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemerintah yang hadir ketika bencana terjadi. Masyarakat juga membutuhkan pemerintah yang bekerja serius agar risiko bencana dapat dikurangi sebelum bencana terjadi.
Bantuan dapat meringankan beban sementara, tetapi tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan yang menyebabkan banjir berulang. Gotong royong dapat membantu membersihkan rumah, tetapi tidak dapat menggantikan perbaikan sistem pengendalian banjir. Demikian pula, imbauan menggunakan masker tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan kabut asap tanpa pengendalian sumber pencemaran dan pengawasan lingkungan yang konsisten.
Persoalan banjir, kabut asap, dan layanan air bersih memang memiliki penyebab serta penanganan yang berbeda. Karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah yang sesuai dengan karakter masing-masing masalah. Pengendalian banjir membutuhkan perencanaan tata ruang, pengelolaan drainase dan daerah aliran sungai, perlindungan kawasan resapan, serta evaluasi infrastruktur. Pengendalian kabut asap membutuhkan pemantauan kualitas udara, pengawasan sumber pencemaran, dan penegakan hukum. Sementara itu, layanan air bersih memerlukan sistem penyediaan yang andal, informasi yang transparan, dan penanganan gangguan yang cepat.
Kita memahami bahwa tidak semua bencana dapat dicegah sepenuhnya. Namun, risiko yang dapat dikurangi tidak boleh dibiarkan terus berulang tanpa evaluasi dan pertanggungjawaban yang jelas. Masyarakat tidak hanya membutuhkan pejabat yang datang ketika bencana terjadi. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang bekerja agar masyarakat tidak terus menjadi korban persoalan yang sama.
Negara Harus Memberikan Rasa Aman
Dalam psikologi sosial, kepercayaan masyarakat terhadap institusi turut dibentuk oleh pengalaman mereka ketika berhadapan dengan institusi tersebut. Masyarakat membutuhkan bukti bahwa kebijakan benar-benar memberikan perlindungan, keluhan ditanggapi, dan persoalan yang berulang ditangani secara serius.
Kepercayaan publik tidak cukup dibangun melalui kunjungan lapangan, konferensi pers, atau dokumentasi kegiatan. Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat merasakan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kita memahami bahwa pemerintah memiliki banyak program pembangunan, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes). Program-program
tersebut dapat diperdebatkan dari sisi prioritas, anggaran, maupun pelaksanaannya. Namun, apa pun program yang dijalankan, kebutuhan dasar masyarakat tidak boleh tersisih.
Pembangunan seharusnya membuat kehidupan masyarakat semakin layak. Kita dapat membangun berbagai program ekonomi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi semua itu akan kehilangan sebagian maknanya jika masyarakat masih harus berjuang mendapatkan air bersih, menghadapi udara tercemar, dan mengkhawatirkan rumahnya setiap kali hujan turun.
Keberhasilan pemerintah karena itu tidak cukup diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan setelah bencana. Pemerintah juga perlu dinilai dari kemampuannya mengurangi risiko, memperbaiki layanan publik, menjaga lingkungan, dan memastikan persoalan yang sama tidak terus berulang.
Masyarakat berhak mengetahui langkah pencegahan yang dilakukan, target perbaikan yang ditetapkan, serta pertanggungjawaban atas kebijakan yang dijalankan. Dengan demikian, warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga dapat mengawasi pelaksanaan amanah publik.
Masyarakat Hanya Ingin Hidup dengan Layak
Masyarakat tidak meminta kehidupan yang mewah. Masyarakat hanya ingin menghirup udara yang bersih, memperoleh air yang layak, tinggal di lingkungan yang aman, bekerja tanpa kecemasan yang seharusnya dapat dikurangi, dan melihat anak-anak tumbuh dalam kondisi yang mendukung kesehatan serta pendidikan mereka.
Kita ingin seorang bapak berangkat bekerja tanpa harus terus memikirkan apakah rumahnya akan kembali terendam. Kita ingin seorang ibu berdagang dengan tenang tanpa kehilangan modal akibat bencana yang berulang. Kita ingin anak-anak dapat belajar tanpa terus-menerus terganggu oleh kondisi lingkungan yang tidak aman.
Kita menghargai bantuan ketika bencana terjadi. Kita berterima kasih kepada petugas dan masyarakat yang telah membantu sesama. Namun, Kita juga berhak menuntut pencegahan yang lebih serius, layanan publik yang dapat diandalkan, dan pertanggungjawaban yang jelas. Sebab, masyarakat tidak seharusnya terus dipaksa bertahan dari bencana yang sama, mengeluarkan uang dan tenaga untuk memulihkan kerusakan yang berulang, sementara persoalan mendasarnya belum juga diselesaikan.
Pada akhirnya, jika udara bersih dan air bersih saja masih menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan mati-matian oleh rakyat, lalu sebenarnya untuk siapa negara ini bekerja?
Pertanyaan itu bukan bentuk penolakan terhadap negara, melainkan pengingat bahwa negara dibentuk untuk melindungi warganya dan menyelenggarakan kehidupan bersama secara layak. Karena sejatinya, pemerintah yang baik bukan hanya pemerintah yang hadir ketika rakyat sedang kesusahan, melainkan pemerintah yang sungguh-sungguh bekerja agar rakyat tidak terus-menerus mengalami kesusahan yang sama.
Udara bersih dan air bersih bukan kemewahan. Keduanya adalah kebutuhan dasar manusia. Memenuhi kebutuhan tersebut bukanlah kemurahan hati pemerintah kepada rakyat, melainkan bagian dari tanggung jawabnya kepada warga negara.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Hubungi Kami
Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.
Alamat
Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172