Seminar Nasional Gerakan Peradaban dan Tantangan Global Muhammadiyah Bersama Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, MA
Humas UM Sumatera Barat – Sambut hari bermuhammadiyah, Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat laksanakan seminar nasional dengan tema ‘Gerakan Peradaban dan Tantangan Global Muhammadiyah’ di convention hall Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, MA kampus I Padang.
Rektor UM Sumatera Barat, Dr. Riki Saputra, MA mengatakan, tema ini selalu menjadi perbincangan yang wajib untk terus kita update pengetahuannya, informasi-informasi empiriknya karena Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi terbesar di Asia selalu dan terus berbuat dalam kancah internasional. Sudah tepat rasanya jika hal ini dibahas dan dipantik oleh Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, MA karena memang keilmuan dan pengalaman beliau banyak berkecimpung dengan dunia sejarah politik islam internasional, apalagi jika dihubungkan dengan muhammadiyah, katanya.
Kita ucapkan terimakasih pada Prof. Noto yang sudah berkenan hadir ditengah-tengah kita bersama, dalam rangka berbagi ilmu dan pengalaman, yang akan menambah wawasan kita sebagai warga persyarikatan Muhammadiyah, ujar Riki Saputra.
Dalam materinya Prof. Noto mengajak kita untuk banyak belajar, dan mengkaji ilmu secara mendalam, serta mengambil narasi-narasi apa yang timbul dari peradaban kemanusian masa lalu untuk masa depan. Orang beriman dan bertaqwa harus punya kekuatan untuk memahami masa lalu, dan mampu mengambil pelajaran darinya, serta mampu menangkap pesan penting dari sebuah peristiwa masa lalu, ucapnya.
Seperti nabi Muhammad SAW yang sudah meninggal lebih dari satu abad yang lalu, namun makna kemanusiaan nabi Muhammad masih hidup sampai sekarang, inilah yang disebut narasi, katanya menjelaskan.
Contoh lainnya adalah nabi Musa dengan Fir’aun, meskipun mereka berdua sudah lama meninggalkan dunia ini namun makna dan narasi kemanusiaannya masih hidup sampai saat ini.
Dalam sistem pemerintahan Fir’aun mencerminkan kekuasaan yang otoriter, dia menguasai negara, aset dan bahkan menguasai semuanya namun berkuasa secara zhalim. Sedangkan nabi Musa merupakan simbol dari kekuatan yang berusaha mendobrak suatu kezhaliman, kekuatan yang berusaha mendobrak otoritarianisme, yang meneriakkan pemerintahan yang adil, ekonomi yang berkeadilan, hukum yang adil, dan semua cita-cita keadilan, ungkapnya.
Jadi pelajarilah peristiwa Firaun dan Musa untuk menatap masa depan, kemudian membangun satu model altefnatif kehidupan dan kepemimpinan yang lebih beradab dan berkeadaban, jangan mengikuti kekuasaan seperti otoritarianisme Firaun, atau kekuasaan otoriter lainnya, tegas Prof. Noto.
Frans Fradinen
***
Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Ayo Bergabung Bersama Fanpage UM Sumatera Barat
Ikuti Juga Twitter UM Sumatera Barat
***
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Hubungi Kami
Kami siap membantu Anda. Jangan ragu menghubungi kami melalui informasi berikut.
Alamat
Jln. Pasir Kandang No. 4
Koto Tangah, Padang, 25172