info@umsb.ac.id (0751) 482274

Rektor UM Sumatera Barat Berikan Tausiah Di Masjid Taqwa Muhammadiyah

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Rabu,05 April 2023 11:53:00
Dibaca: 174 kali

Humas UM Sumatera Barat – Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat Dr. Riki Saputra, MA mengisi tuasiah di Masjid Taqwa Muhammadiyah. Diawal tausiah Riki Saputra mengimbau kepada jamaah untuk selalu bersyukur kepada Allah, SWT yang senantiasa memberikan rahmad dan karunianya kepada kita semua. Sehingga bisa dipastikan siapapun, dan seberapapun kekuasaannya tidak akan mampu untuk membalas nikmat yang sudah diberikan Allah, bahkan menghitung saja  tidak akan mampu. Maka sudah menjadi harga mati bagi kita sebagai manusia yang beragama, dalam keadaan suka maupun duka rasa syukur kita kepada Allah harus tetap sama.

Allah sudah menciptakan, menyempurnakan kejadian dan menjadikan susunan fisik yang seimbang, hal ini tercamtum dalam Al-quran surat Al-Infitar ayat 7. Melalui ayat ini para ulama selalu mengingatkan bahwa jasmani dan rohani memiliki kebutuhan yang seimbang, karena sangat banyak firman Allah dalam Al-quran yang menjelaskan hakikat jasmani dan rohani yang membutuhkan keseimbangan.

Jalaludin Arrumi mengatakan, ketika manusia mampu mengandalikan, memahami, menerapkan antara keseimbangan jasmani dan rohani, maka manusia itu disebut dengan insanul kamil (manusia yang sempurna). Sebab tidak hanya jasmani yang membutuhkan cukup asupan nutrisi, tetapi jauh lebih penting dari itu yang harus diberi nutrisi adalah rohani manusia, namun kadang kala kita lupa dan tidak konsisten dalam memenuhi kebutuhannya, jelas Riki Saputra.

Dibulan ramadhan ini sebagai manusia yang beriman, selama satu bulan penuh kita dilatih untuk mampu mengendalikan  sisi jasmani dan rohani dalam batas waktu tertentu. Disisi lain ada sesuatu yang kita lupa. Saya menyebutnya sebagai ‘puasa digital’ ujarnya.

Secara umum puasa itu mengendalikan secara fisik atau jasmani, makan, minum, memelihara kata-kata, memelihara hati dalam batas waktu tertentu dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan tujuan menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan rohani.

Lalu apa yang dimaksud dengan puasa digital? Yaitu kemampuan individu untuk menahan diri dari ketergantungan terhadap gadget dan berbagai hal yang ada didalamnya yang dapat menimbulkan berbagai penyakit, baik penyakit batin maupun  penyakit jasmani.  Jika tidak mampu untuk mengendalikannya kitalah yang akan dikendalikannya dengan kecanduan yang berat.

Mungkin ada diantara kita yang sudah ketergantungan dalam berbagai hal yang sifatnya digitalisasi. Ramadhan ini hingga seterusnya bisa kita jadikan momen untuk melatih puasa digital agar tertanam di dalam diri. Bukan berarti kita menghindari atau menghilangkan digital, karena zaman yang dikatakan 5.0 segala informasi bisa diraih dalam dunia digital. Namun jika tidak mampu mengendalikan digitalisasi maka itulah yang disebut sebagai sebuah kecanduan, ungkap Riki.

Ada lima hal yang menjadi perhatian kita untuk segera memulai puasa digital, pertama dunia digital sudah menyebabkan ketergantungan bagi semua lini manusia, bisa dilihat sekitar kita sudah dipenuhi orang-orang yang sibuk dengan gadgetnya masing-masing tanpa mempedulikan lingkungannya, hingga tidak ada lagi rasa keakraban, kekeluargaan dan kebersamaan.

Jika tidak mampu megendalikan diri terhadap dunia digital, bisa  menyebabkan stres dalam waktu jangka panjang karena kuatnya rasa ketergantungan ini, dan itu sudah bisa dilihat dan di saksikan secara nyata dilingkungan kita bermasyarakat, ujarnya.

Ketergantungan digital inilah yang akan merusak fisik dan rohani. Secara batiniah ketika seorang individu gagal mengendalikan berbagi aplikasi yang ada di dunia digital ini akan merusak ukhuwah insaniah maupun islamiah, seperti meyebarkan informasi yang belum tentu kebenaranna melalui berbagai media sosial hingga menimbulkan fitnah untuk seseorang ataupun golongan tertentu.

Seterusnya jika mampu untuk berpuasa digital maka akan tercipta ruang yang tenang, sebab mata dan otak bisa beristirahat dengan cukup. Dunia kesehatan sudah menegaskan, saat tidur tidak boleh ada perangkat digital berada didekat kita karena bisa menggangu cara kerja otak dan akan menggangu kinerja mata dan fisik secara keseluruhan.

Keempat puasa digital bisa membuat hidup lebih bermutu dan bermakna karena kebahagiaan sejati didapatkan ketika kita saling bercengkrama dan saling bercerita saat bertatap muka. Namun sekali lagi bukan berarti kemajuan teknologi harus kita hindari atau kita buang tapi lebih daripada itu bagaimana cara kita mengendalikan diri dari gemerlap dunia digitalisasi itu tadi.

Timbul pertanyaan bagaimana langkah konkrit yang bisa bisa dilakukan untuk melaksanakan puasa digital ini?

Dalam kacamata ilmu psikologi ada dua cara yang bisa dilakukan seperti, membatasi penggunaan gadget secara berlebihan. Atau menetapkan hari tertentu untuk tidak menggunakan gadget sama sekali, karena pada hakikatnya kitalah yang mengendalikan teknologi bukan sebaliknya, tutup Riki Saputra.

Frans Fradinen

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274