info@umsb.ac.id (0751) 482274

Menemani Orang yang Sakit

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Kamis,27 Juli 2023 03:44:00
Dibaca: 974 kali
Foto oleh Pixabay: https://www.pexels.com

Kesehatan adalah hal yang paling utama. Orang yang sehat dapat beribadah dengan baik. Mereka juga bisa bekerja dengan normal dan produktif dan mereka juga bisa berbagi dengan sesama.

Tapi jika sudah sakit, ibadah jadi tidak sempurna, produktivitaspun menurun hingga berdampak pada kurang maksimal untuk berbagi. Sakit dalam bahasa arab disebut dengan al maradh yang bermakna rusaknya tubuh atau berubahnya kesehatan setelah sebelumnya normal. Atau dalam istilah kekiniannya bisa disebut juga dengan disabilitas. Seseorang yang sebelumnya able menjadi disable karena suatu hal.

Penyakit datang atas izin Allah, baik itu sakit fisik maupun non fisik. Manusia tidak ada yang ingin sakit. Manusia ingin produktif dan berkarya. Namun ketika sedang sakit, manusia terhalang untuk beraktivitas secara maksimal. Syukur-syukur masih minimal, karena ada juga yang terhenti sama sekali.

Sakit bisa karena kecelakaan tak terduga dan bisa juga akibat dari perlakuan orang lain yang mencelakakan. Misalnya tertabrak atau mungkin sengaja ditabrak. Meskipun kita sudah berhati-hati, terkadang masih bisa celaka akibat keteledoran orang lain.

Sakit tidak hanya fisik tapi bisa menyerang mental. Sakit mental ini seringkali diabaikan karena wujudnya yang tidak terlihat atau intangible. Sakit mental bisa dipicu oleh intimidasi, perundungan, pelecehan, dan lainnya. Diantara penyakit mental yang berbahaya adalah depresi. Penanganan penderita depresi tidak boleh sembarangan, harus dengan orang profesional atau psikiater.  

Meskipun sakit mental tidak nampak secara fisik, namun sangat berpengaruh terhadap aktivitas rutin sehari-hari. Mereka yang sebelumnya aktif bermasyarakat, berorganisasi, berkarya, bekerja, dll, bisa saja berhenti melakukan aktivitas tersebut karena mengalami gangguan mental. Bayangkan jika itu membuat aktivitas kebaikan tersebut menjadi terhenti.

Beberapa kasus lebih ekstrim lagi. Ada sebagian orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri karena lelah menahan sakit. Bisa jadi sebagian besar orang akan mencemooh karena bunuh diri merupakan tindakan yang tercela, tapi pertanyaanya kemana mereka ketika orang tersebut sedang sakit?

Jika kita buka QS 19:23, ketika Maryam duduk di bawah pohon kurma karena sudah terasa sakit akan melahirkan, beliau juga berpikir bahwa mati adalah lebih baik. Perasaan ini didorong karena beliau merasa tidak diperhatikan dan dilupakan.

Alhamdulillah, Allah mengirimkan malaikat Jibril untuk menemani Maryam dengan memberikan harapan dan kabar gembira agar tidak bersedih hati. Malaikat Jibril menganjurkan Maryam untuk makan, minum, dan bersenang hati. Lakukan hal-hal menggembirakan semampunya.

Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa, hendaknya menjadi teman bagi orang yang sedang dilanda sakit mental. Bukan mencemooh, menceramahi, mendikte, merendahkan, dll. Apalagi sampai memberikan stigma kurang beriman, kurang bersyukur, kurang ikhlas, kurang sabar, dan kurang-kurang lainnya. Itu semua tidak diajarkan dalam Al Quran.

Ibarat ada orang jatuh terpeleset kulit pisang, maka yang dibutuhkan adalah membantu orang tersebut berdiri. Bukan ditertawakan atau dinasehati. Jika perlu, cari orang yang membuang kulit pisang sembarangan itu untuk dimintai pertanggungjawaban.

Al Quran mengajarkan kepada mereka yang sehat untuk menemani yang sedang sakit mental. Tidak hanya menemani, tetapi juga membantunya berdiri. Mengajak makan, minum, menggembirakan hatinya serta membantu masalah hidupnya. Bukan sebaliknya justru menakut-nakuti dengan stigma kurang iman, pendosa, kufur nikmat, dll. Stigma-stigma tersebut justru merupakan perilaku orang-orang yang pernah mencemooh Maryam.

Sangat relevan jika kemudian lahir komunitas-komunitas untuk membantu mereka yang sedang sakit. Ini bisa menjadi ladang dakwah bagi organisasi Islam. Umat Islam agar mengambil peran nyata karena ini juga bagian dari perintah Al quran. Apalagi karakter ajaran Islam adalah senantiasa menggembirakan dan mengajak orang untuk optimis secara berjamaah.

Namun tidak perlu bersedih. Ada sebuah hadits yang dapat membesarkan hati orang-orang mukmin yang sedang sakit.

Abu Musa Al-Asy'ariy -ra?iyall?hu 'anhu- berkata, Rasulullah -?allall?hu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan, maka akan dicatat baginya seperti amalan yang biasa ia lakukan ketika dalam keadaan mukim dan sehat." (HR Bukhari)

Penyakit bisa datang kepada siapapun karena itu atas izin Allah. Tidak peduli profesi, jabatan, kaya, atau miskin. Orang yang rajin beribadah pun bisa sakit. Orang dermawan pun juga sama.

Namun sakit bagi orang-orang shalih adalah tanda kecintaan dari Allah, bukan orang yang dibenci. Jadi sakit tidak selalu identik dengan kesalahan dan azab. Ibarat sepasang kekasih yang sedang cubit-cubitan, bukan rasa sakit tapi yang muncul adalah kasih sayang. Yang di uji juga bukan orang yang sedang sakit, tetapi juga orang disekitarnya, apakah mereka ikut peduli atau justru bersikap masa bodoh.

Wallahua'lam

Ditulis oleh: Miqdam Awwali Hashri, SE

Artikel ini sudah terbit di Suara Muhammadiyah

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274