info@umsb.ac.id (0751) 482274

Al-Ghazali dan Filsafat

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Rabu,28 Februari 2024 04:12:00
Dibaca: 69 kali

Al-Ghazali, juga dikenal sebagai Abu Hamid al-Ghazali, adalah seorang teolog Islam, ahli hukum, filsuf, dan mistik yang terkemuka yang hidup pada abad ke-11. Dia dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pemikiran Islam. Al-Ghazali mengalami transformasi intelektual yang signifikan selama hidupnya. Pada awal kehidupannya, dia sangat dipengaruhi oleh tradisi filosofis rasionalis, khususnya karya-karya filsuf Yunani seperti Aristoteles dan Plato. Dia belajar berbagai cabang ilmu, termasuk filsafat, teologi, hukum, dan mistik.

Namun, sekitar usia 35 tahun, Al-Ghazali mengalami krisis iman dan mulai mempertanyakan nilai dan validitas berbagai cara-cara intelektual. Dia mundur dari posisinya sebagai pengajar dan memulai perjalanan spiritual. Fase hidupnya ini sering disebut sebagai "krisis spiritual" atau "titik balik." Selama pencarian spiritualnya, Al-Ghazali memeluk tasawuf atau sufisme, dimensi mistik Islam, dan menjadi murid dari para guru sufi. Dia fokus pada perjalanan ke dalam, mencari hubungan langsung dan pengalaman dengan Allah. Perubahan dalam pemikirannya ini menandai perpisahan dari pendekatan yang lebih rasional dan filosofis yang sebelumnya dia peluk.

Dalam karyanya yang terkenal Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf), Al-Ghazali mengkritik berbagai ide filosofis, khususnya yang diajukan oleh para filsuf Yunani kuno. Dalam bukunya tersebut, kritik Al-Ghazali secara utama ditujukan kepada tradisi Aristoteles yang mendapat perhatian di dunia Islam. Berikut beberapa aspek kunci dari argumen Al-Ghazali dalam buku tersebut.

Pertama, sebab-akibat dan kehendak Tuhan. Al-Ghazali menantang ide Aristoteles tentang keterkaitan antara sebab dan akibat. Dia berpendapat bahwa sebab-akibat tidak melekat dalam benda itu sendiri tetapi tergantung pada kehendak Allah. Ini menantang gagasan filosofis tentang alam semesta yang diperintah oleh hukum alam yang independen dari intervensi ilahi. Menurutnya, Tuhan adalah penyebab akhir dari segalanya, dan sebab-akibat adalah manifestasi dari kehendak ilahi daripada sifat yang melekat dari dunia fisik.

Aristoteles dan para filsuf lain mengemukakan gagasan tentang hubungan yang niscaya antara sebab dan akibat, menunjukkan bahwa begitu suatu penyebab hadir, efeknya akan selalu mengikuti. Al-Ghazali menolak pandangan deterministik ini dan menyatakan bahwa Tuhan memiliki kekuatan untuk membawa efek apa pun, bahkan tanpa sebab tertentu. Dia menyatakan bahwa kehendak Tuhan tidak terikat oleh tatanan kausal yang tetap.

Al-Ghazali menekankan gagasan bahwa Tuhan adalah penyebab utama semua peristiwa. Sementara dia mengakui keteraturan yang diamati di dunia alami, dia menghubungkannya dengan kehendak Allah yang konsisten daripada dengan sifat-sifat yang melekat di dalam makhluk-makhluk yang diciptakan. Perspektif ini menggarisbawahi gagasan keterlibatan terus-menerus Tuhan dalam setiap peristiwa.

Kedua, penolakan kebangkitan jasmani. Al-Ghazali mengkritik para filsuf yang menolak kebangkitan jasmani. Dia berpendapat bahwa penolakan para filsuf terhadap kebangkitan bertentangan dengan keyakinan Islam dan didasarkan pada pemahaman yang salah tentang sifat jiwa. Hemat Ghazali, Islam mengajarkan kebangkitan tubuh, bersama dengan jiwa, pada hari penghakiman, dan Al-Ghazali berusaha untuk mendamaikan kepercayaan ini dengan ide-ide filosofis. Dia berpendapat bahwa para filsuf yang menyangkal kebangkitan tubuh sering melakukannya karena pemahaman mereka yang salah tentang sifat jiwa. Al-Ghazali mengkritik konseptualisasi jiwa mereka sebagai spiritual murni, mengabaikan hubungannya dengan tubuh.

Ketiga, ketidakterbatasan dunia. Ide tentang kekekalan dunia menjadi poin kontroversial. Al-Ghazali melawan para filsuf yang mengakui keberlanjutan eksistensi dunia, dengan berpendapat bahwa hal itu bertentangan dengan pandangan Islam tentang penciptaan dan intervensi ilahi. Al-Ghazali menegaskan keyakinan Islam bahwa penciptaan alam oleh Allah itu ex nihilo, yang berarti "dari ketiadaan." Dia berpendapat bahwa dunia pasti memiliki awal dan tidak bisa abadi karena Tuhan, sebagai Sang Pencipta, memprakarsai keberadaannya. 

Al-Ghazali mendukung argumennya dengan referensi kepada Al-Quran. Dia mengutip ayat-ayat yang menekankan Allah sebagai pencipta langit dan bumi, menggarisbawahi gagasan bahwa dunia memiliki asal sementara. Dia menolak gagasan regresi yang tak terbatas dari penyebab dan akibat. Jika dunia ini abadi, itu akan menyiratkan rantai sebab akibat yang tak terbatas, yang menurut al-Ghazali bermasalah secara filosofis dan teologis. Dia berpendapat bahwa kemunduran tak terbatas seperti itu tidak dapat dibayangkan dan tidak konsisten dengan akal.

Keempat, keterbatasan akal. Al-Ghazali menekankan batasan akal manusia dan bahaya bergantung sepenuhnya pada spekulasi filosofis untuk memahami kebenaran agama. Dia berpendapat bahwa akal sendiri tidak cukup untuk memahami masalah metafisika dan agama. Al-Ghazali juga percaya bahwa akal manusia memiliki keterbatasan yang melekat dalam hal memahami esensi Tuhan. Dia yakin bahwa aspek-aspek tertentu dari sifat dan zat Allah berada di luar pemahaman kecerdasan manusia. Begitu juga dengan kehidupan akhirat dan misteri yang terkait dengannya dianggap oleh al-Ghazali berada di luar jangkauan akal. Dia menegaskan bahwa kecerdasan manusia, terikat oleh kendala dunia material, tidak dapat sepenuhnya memahami realitas dunia spiritual.

Kelima, implikasi teologis. Karya Al-Ghazali ini bertujuan untuk melindungi teologi Islam tradisional dari apa yang dia lihat sebagai implikasi sesat dari beberapa gagasan filosofis tertentu. Dia berusaha untuk mendamaikan akal dengan wahyu dan menegaskan keutamaan pengetahuan agama yang berasal dari sumber ilahi.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun Al-Ghazali mengkritik beberapa aspek filsafat Yunani, dia tidak menolak akal sama sekali. Sebaliknya, dia menganjurkan integrasi yang harmonis antara akal, wahyu, dan pengalaman mistik dalam pencarian pengetahuan dan pemahaman. Meskipun mendapat kritik keras, karya Al-Ghazali tidak menyebabkan penolakan total terhadap filsafat di dunia Islam, melainkan memicu perdebatan dan diskusi yang berlanjut selama berabad-abad.

Oleh : Donny Syofyan

Artikel ini telah tayang di Suara Muhammadiyah

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274