info@umsb.ac.id (0751) 482274

Mengapa Idul Adha di Arab Saudi duluan dari Indonesia ? Simak Penjelasannya

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Senin,10 Juni 2024 08:27:00
Dibaca: 21370 kali

Humas UM Sumatera Barat - Mengapa Idul Adha di Arab duluan daripada Idul Adha di Indonesia? Pertanyaan ini mungkin dipertanyakan oleh masyarakat khususnya umat muslim saat perayaan Idul Adha, ketika terjadi perbedaan tanggal. Terkait hal ini, Dosen Ilmu Falak Hukum Keluarga Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhmmadiyah Sumatera Barat (Sumbar) yang juga anggota Komisi Fatwa MUI Sumbar dan anggota Hisab Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Firdaus, M.H.I memberikan penjelasan tentang alasan perbedaan ini.

Dijelaskan beliau, awal bulan antara dua negara yang berjauhan bisa saja berbeda karena perbedaan posisi hilal sebagai penentu bulan baru. Di sini, ketika umur bulan Zulkaedah 29 hari pada Kamis (6/6) saat matahari terbenam di Papua, hilal belum wujud. Kemudian satu jam lagi masuk magrib di Sulawesi, hilal juga belum wujud. Bahkan sampai Indonesia paling barat masuknya magrib di Aceh, hilal juga belum wujud. Apabila hilal di bawah ufuk papar beliau, maka digenapkan bulan Zulkaedah 30 hari.

Sedangkan sebut beliau, Arab yang memiliki perbedaan waktu 4 jam dengan Indonesia, pada hari dan tanggal yang sama yaitu empat jam setelah matahari terbenam di Aceh, sesudah itu matahari terbenam di Arab Saudi, ternyata hilal sudah wujud atau disebut bulan baru sudah tampak. Benar saja papar beliau, di Kalender Umul Qura Arab Saudi memang duluan tanggal satu Zulhijjah, yakni Jumat (7/6).

Untuk penentuan harinya, Pemerintah Arab menetapkan 10 Zulhijjah pada Ahad/Minggu (16/6), sementara Muhammadiyah telah memutuskan Idul Adha pada Senin (17/6). Pemerintah melalui Kementerian Agama RI Rukyatul hilal pada Jumat (7/5) kira-kira pukul 19.00 mengumumkan bahwa tanggal 1 Zulhijjah 1445 H jatuh pada Sabtu (8/6), maka dengan sendirinya Idul Adha jatuh pada Senin (17/6).

Puasa Arafah

Sementara itu papar beliau, perlu dimaklumi terkait puasa tanggal 9 Zulhijjah yang bertepatan dengan jadwal wukuf di Arafah yang disyariatkan untuk haji setiap tanggal 9 Zulhijjah. Puasa 9 Zulhijjah bukan karena orang wukuf di Arafah, tetapi karena 9 Zulhijjah. Nabi Muhammad SAW sudah terbiasa berpuasa setiap 9 Zulhijjah, sebelum menunaikan ibadah haji. Sesungguhnya puasa karena orang sedang wukuf di Arafah tidak ada. Buktinya Rasulullah dalam praktiknya tidak berpuasa waktu sedang wukuf, malahan Rasulullah meminum susu tatkala susu sampai di hadapan beliau.

Beliau juga menjelaskan, puasa bukan karena orang sedang wukuf di Arafah, bisa dipahami bahwa wukuf dimulai pukul 12 lewat Waktu Arab Saudi (WAS). Sementara di Indonesia yaitu Kota Padang khususnya, waktu wukuf berdasarkan WAS tersebut sudah mulai 16.00 WIB lewat, bagaimana mungkin puasa dimulai sore hari. Kemudian di Indonesia bagian tengah (WITA) sudah pukul 17.00 lewat. Apalagi di Papua sudh 18.00 petang.

“Mana ada puasa dimulai pukul enam petang, jika berpuasa karena orang wukuf di Arafah,” tuturnya.

Hukum Puasa

Terkait hukum berpuasa sebut beliau, untuk orang Indonesia yang ingin berpuasa pada 9 Zulhijjah, berpuasalah pada Minggu (16/6) karena bagi orang Indonesia itu merupakan 9 Zulhijjah. Jadi bukan haram berpuasa  karena Idul Adha di Arab Saudi, malahan disunnahkan berpuasa pada 9 Zulhijjah.

“Waktu Covid-19 melanda dunia, dua tahun berturut-turut tidak ada wukuf di Arafah, kendati demikian umat Islam tetap berpuasa tanggal 9 Zulhijjah,” pungkas beliau.

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274