Libur Lebaran dan Momentum Kebangkitan Desa Wisata
Oleh: Mochammad Abdi
Tim Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata Provinsi Sumatera Barat & Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Libur Lebaran selalu menjadi momen yang dinantikan masyarakat Indonesia. Selain sebagai waktu untuk bersilaturahmi, periode ini juga identik dengan meningkatnya aktivitas wisata keluarga. Namun, di balik euforia tersebut, persoalan klasik seperti kemacetan menuju destinasi wisata unggulan kembali terulang setiap tahun.
Di Sumatera Barat, lonjakan wisatawan saat Lebaran kerap terpusat pada destinasi-destinasi populer. Akibatnya, kenyamanan berwisata justru berkurang karena padatnya arus lalu lintas dan membludaknya pengunjung. Dalam konteks ini, kita perlu mulai menggeser cara pandang terhadap pilihan destinasi wisata, terutama dengan melirik potensi besar desa wisata.
Desa wisata bukan sekadar alternatif, melainkan solusi strategis. Ia menawarkan pengalaman yang lebih autentik—menyatu dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal. Di tengah tren pariwisata global yang mulai bergeser ke arah pengalaman berbasis komunitas dan keberlanjutan, desa wisata memiliki posisi yang sangat relevan.
Sumatera Barat sesungguhnya memiliki kekayaan desa wisata yang luar biasa. Dari lanskap alam yang indah, tradisi adat yang kuat, hingga ragam kuliner khas, semuanya merupakan daya tarik yang tidak kalah dibandingkan destinasi wisata massal. Sayangnya, potensi ini belum sepenuhnya dikembangkan secara optimal.
Momentum libur Lebaran yang masih panjang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendorong pemerataan kunjungan wisata. Wisatawan tidak lagi terfokus pada satu atau dua titik, melainkan menyebar ke berbagai desa wisata yang tersebar di kabupaten dan kota. Dengan demikian, beban destinasi utama dapat berkurang, sementara desa-desa mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung.
Lebih dari itu, pengembangan desa wisata juga memiliki dampak sosial yang signifikan. Ia membuka peluang kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong pelestarian budaya lokal. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan wisata, maka keberlanjutan sektor ini akan lebih terjamin.
Namun, tentu saja pengembangan desa wisata tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Pemerintah daerah perlu memperkuat infrastruktur dan aksesibilitas, sekaligus meningkatkan promosi berbasis digital. Sementara itu, masyarakat perlu dibekali dengan kapasitas pengelolaan wisata yang profesional dan berorientasi pada pelayanan.
Sebagai bagian dari Tim Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata Provinsi Sumatera Barat, saya melihat bahwa minat terhadap desa wisata terus menunjukkan tren positif. Tinggal bagaimana kita mengelola momentum ini secara tepat, termasuk pada periode libur Lebaran seperti sekarang.
Sudah saatnya desa wisata tidak lagi diposisikan sebagai pilihan kedua. Ia harus menjadi arus utama dalam pembangunan pariwisata daerah. Libur Lebaran tahun ini dapat menjadi titik balik—bahwa berwisata tidak harus identik dengan kemacetan, keramaian berlebih, dan kelelahan.
Sebaliknya, berwisata bisa menjadi pengalaman yang tenang, bermakna, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat lokal. Dan desa wisata adalah jawabannya.
Informasi
KONTAK
Alamat
Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172
info@umsb.ac.id
Telp
(0751) 482274