info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp Logo

Dosen Kebidanan UM Sumatera Barat Raih Pendanaan PKM, Fokus Cegah Stunting Pascabencana di Tanah Datar

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Senin,20 April 2026 11:19:00
Dibaca: 56 kali

Humas UM Sumatera Barat - Dosen Program Studi Kebidanan, Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat, Yuliza Anggraini, S.ST, M.Keb berhasil meraih pendanaan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti) dengan fokus penanganan stunting di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. Program tersebut mengusung pelatihan kader Muhammadiyah dan 'Aisyiyah di Kenagarian Padang Laweh Malalo sebagai strategi intervensi berbasis komunitas.

Kegiatan PKM yang akan dilaksanakan tersebut melibatkan kolaborasi lintas institusi, di antaranya dosen Gizi Universitas Perintis Maria Nova, SKM, M.Kes, dosen kebidanan UM Sumatera Barat Chyka Febria, S.ST, M. Biomed serta mahasiswa kebidanan Salsabila dan Adelliya Meiva Fitri. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas kader dalam menghadapi tantangan gizi di wilayah bencana.

Dosen Kebidanan UM Sumatera Barat, Yuliza Anggraini, S.ST, M.Keb mengatakan, Program PKM tersebut menyasar kelompok masyarakat yang tidak produktif secara ekonomi sebagai mitra utama. Kelompok tersebut dinilai paling rentan terhadap dampak gizi buruk, khususnya dalam situasi krisis yang memperburuk akses terhadap pangan, layanan kesehatan, dan sanitasi.

Berdasarkan data terbaru ungkap beliau, prevalensi stunting di Kabupaten Tanah Datar mencapai 13,3 persen, meningkat dari sebelumnya 12,6 persen, sementara target pemerintah daerah pada tahun 2025 adalah 9,4 persen. Kesenjangan tersebut tutur beliau, menunjukkan perlunya intervensi yang lebih adaptif dan kontekstual, terutama di wilayah terdampak bencana. “Situasi semakin kompleks setelah bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh Siklon Tropis Senyar melanda wilayah Sumatera Barat pada November 2025. Infrastruktur mengalami kerusakan parah, termasuk jembatan putus, rumah hanyut, serta fasilitas umum yang tidak lagi berfungsi,” terangnya.

Akibatnya papar beliau, akses jalan terputus dan distribusi logistik terganggu, menyebabkan masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak harus mengungsi dan menghadapi keterbatasan layanan kesehatan. “Sebanyak 12 kecamatan di Tanah Datar mengalami isolasi, dengan Kecamatan Batipuh Selatan sebagai salah satu wilayah terdampak paling parah,” katanya.

Lebih jauh beliau mengungkapkan dua krisis besar, yakni stunting sebagai krisis gizi kronis dan bencana sebagai krisis akut, terjadi secara bersamaan. Kondisi tersebut mempercepat siklus penyebab stunting dan menciptakan darurat gizi di tengah darurat alam, sehingga berpotensi menggagalkan upaya penurunan stunting yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Di Kenagarian Padang Laweh Malalo tutur beliau, kerusakan fasilitas kesehatan seperti gedung posyandu dan alat antropometri menghambat kegiatan skrining dan pemantauan tumbuh kembang anak. Selain itu, peningkatan kasus penyakit seperti ISPA, diare, dan demam memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

Sementara itu kata beliau, Kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat menghadapi keterbatasan dalam menjalankan perannya. Meskipun telah mendapatkan pelatihan sebelumnya, pendekatan yang digunakan masih berbasis kondisi normal sehingga kurang relevan dalam situasi pascabencana. Melalui program PKM ini, beliau dan tim menghadirkan pelatihan berbasis kondisi ekstrem dengan pendekatan adaptif dan responsif. Kader dibekali strategi baru dalam pencegahan stunting pascabencana, sehingga diharapkan mampu menjadi sistem respons komunitas yang efektif dalam menjaga kesehatan ibu dan anak serta menekan angka stunting di wilayah terdampak. (tia)

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274