info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp Logo

Dosen Fakes UM Sumatera Barat Raih Hibah PKM, Hadirkan Program “SENTUHAN” untuk Anak Pascabencana di Muaro Pingai

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Rabu,22 April 2026 03:21:00
Dibaca: 198 kali

Humas UM Sumatera Barat - Dosen Fakultas Kesehatan (Fakes) Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat, Kartika Mariyona, S.ST, M.Biomed, berhasil meraih pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti). Program pengabdian tersebut mengusung inovasi bertajuk SENTUHAN (Sehat, Nutrisi, dan Pertahanan Pasca-Bencana): Edukasi Menjaga Diri dan Pemenuhan Gizi Berbasis Bahan Lokal di Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok.

Beliau mengatakan, program yang beranggotakan Dosen Perintis Tika Dwita Adfar bersama Dosen Ilmu Keperawatan dan Kebidanan UM Sumatera Pagdya Haninda Nusantri Rusdi serta dua mahasiswa yakni Azura Dewi Anjelita dan Leni Reskina tersebut hadir sebagai respons terhadap tingginya resiko bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera Barat yang kerap dilanda banjir bandang dan longsor. Di mana fenomena banjir bandang yang dikenal dengan istilah galodo tersebut menjadi ancaman serius karena membawa material batuan dan lumpur dengan kecepatan tinggi, sehingga berdampak besar terhadap permukiman dan infrastruktur masyarakat.

Sebelumnya kata beliau, bencana yang melanda puluhan titik di Sumatera Barat, termasuk di Kabupaten Solok, telah menyebabkan ribuan warga terdampak. Kerusakan meliputi ratusan rumah, lahan pertanian, serta fasilitas umum. Salah satu wilayah dengan dampak paling parah adalah Nagari Muaro Pingai, Kecamatan Junjung Sirih, yang mengalami lumpuhnya aktivitas ekonomi serta terputusnya akses infrastruktur akibat rusaknya jembatan dan fasilitas publik.

Tercatat sebanyak 657 kepala keluarga terdampak bencana di wilayah tersebut, dengan ratusan bangunan mengalami kerusakan dan tiga jembatan utama terputus. Bahkan hingga akhir Desember 2025, banjir susulan masih terjadi dan menyebabkan material lumpur kembali memasuki permukiman warga, memperparah kondisi pascabencana.

Lebih lanjut dijelaskannya, kondisi pascabencana memunculkan dua permasalahan utama pada anak usia dini, yakni rendahnya pertahanan diri terhadap risiko pelecehan seksual di lingkungan pengungsian serta menurunnya kualitas pemenuhan nutrisi akibat terganggunya akses pangan dan air bersih. “Dalam kondisi darurat ini perhatian terhadap anak seringkali terabaikan karena fokus penanganan lebih diarahkan pada pemulihan infrastruktur. Padahal anak-anak menghadapi resiko serius, baik dari sisi keamanan maupun kesehatan,” ujarnya.

Dari aspek pertahanan ungkap beliau, minimnya edukasi mengenai batasan tubuh serta kurangnya pengawasan orang tua di posko pengungsian meningkatkan kerentanan anak terhadap pelecehan seksual. Data menunjukkan sekitar 80 persen anak belum memahami konsep “sentuhan boleh dan tidak boleh” sebagai dasar perlindungan diri.

Sementara itu lanjut beliau, dari aspek kesehatan dan nutrisi, keterbatasan akses pangan mendorong masyarakat bergantung pada makanan instan rendah gizi. Padahal, Nagari Muaro Pingai memiliki potensi pangan lokal seperti ikan bilih dan sayuran yang belum dimanfaatkan secara optimal, dengan tingkat pemanfaatan baru mencapai sekitar 25 persen.

“Melalui program SENTUHAN, tim PKM menghadirkan pendekatan terpadu yang mencakup edukasi perlindungan diri anak melalui konsep “sentuhan boleh dan tidak boleh” serta penguatan sistem early warning system di tingkat keluarga. Selain itu, program ini juga mendorong pemenuhan gizi berbasis bahan lokal melalui pengolahan pangan seperti ikan bilih crispy dan puding daun kelor,” paparnya.

Program tersebut tutur beliau, juga menitikberatkan pada pemberdayaan kader lokal sebagai perpanjangan tangan layanan kesehatan seperti puskesmas dan pustu. Dengan demikian, intervensi yang dilakukan tidak hanya bersifat sementara, tetapi berkelanjutan dan berbasis komunitas.

Beliau berharap, secara sosial program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan anak serta menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak pascabencana. Sementara dari sisi ekonomi, optimalisasi pemanfaatan pangan lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap bantuan makanan instan serta menekan risiko malnutrisi.

“PKM ini tidak hanya berfokus pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan jangka panjang melalui integrasi aspek kesehatan, nutrisi, dan perlindungan anak. Kami berharap program SENTUHAN dapat menjadi model intervensi di daerah rawan bencana lainnya,” pungkasnya. (tia)

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274