info@umsb.ac.id 0823 8497 0907
WhatsApp Logo

Idul Adha 1447 H : Akankah Umat Islam Kembali Berbeda?

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Senin,04 Mei 2026 10:52:00
Dibaca: 143 kali
ilustrasi

Oleh : Dr. Firdaus, M.H.I

(Dosen Pascasarjana Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat dan Instruktur Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah KBIHU At-Taqwa Muhammadiyah Padang)

Perbedaan penetapan awal Ramadan dan Syawal 1447 H di Indonesia kembali memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah penetapan Iduladha 1447 H tahun 2026 juga akan berbeda, atau justru berlangsung serentak secara nasional? Pertanyaan ini menarik dikaji, sebab Iduladha tidak hanya berkaitan dengan hari raya kurban, tetapi juga berhubungan langsung dengan pelaksanaan ibadah haji dan wukuf di Arafah.

Dalam perspektif Al-Qur’an dan Sunnah, penetapan awal bulan Hijriah, termasuk Zulhijah, berlandaskan pada keberadaan hilal sebagai penanda waktu ibadah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 189 bahwa hilal merupakan tanda-tanda waktu bagi manusia dan pelaksanaan ibadah haji. Ayat ini menegaskan bahwa peredaran bulan memiliki fungsi syariat yang sangat penting, termasuk menentukan awal Zulhijah, hari Arafah, dan Iduladha.

Al-Qur’an juga memberikan isyarat tentang keteraturan perhitungan astronomi. Dalam QS. Yunus ayat 5 dan QS. Ar-Rahman ayat 5 dijelaskan bahwa matahari dan bulan berjalan menurut perhitungan yang pasti. Karena itu, di samping metode rukyat atau pengamatan hilal secara langsung, metode hisab astronomi juga berkembang sebagai bagian dari ijtihad ulama dalam menentukan kalender Hijriah.

Sementara itu, Sunnah Nabi SAW menegaskan pentingnya rukyat hilal. Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup maka sempurnakanlah bilangan bulan menjadi tiga puluh hari.” Hadis riwayat Bukhari dan Muslim tersebut menjadi dasar utama metode rukyat dan istikmal yang selama ini digunakan pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama.

Metode Penetapan dalam Fikih

Dalam praktik fikih Islam, muncul dua pendekatan yang sama-sama memiliki dasar argumentasi. Pertama, pendekatan rukyat yang menitikberatkan pada pengamatan hilal secara langsung, metode ini biasanya dipakai oleh pemerintah. Kedua, pendekatan hisab yang menggunakan perhitungan astronomi modern untuk memastikan posisi hilal secara ilmiah, biasanya metode ini dipakai oleh ormas seperti Muhammadiyah. Perbedaan metode inilah yang terkadang menyebabkan perbedaan penetapan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, Syawal, maupun Zulhijah.

Pandangan Ulama

Selain itu, para ulama juga berbeda pandangan mengenai cakupan rukyat. Sebagian menganut konsep ittihadul mathali’ atau satu rukyat berlaku global bagi seluruh dunia Islam, artinya jika hilal terlihat di satu tempat maka berlaku untuk semua. Sementara sebagian lain berpendapat bahwa setiap wilayah memiliki otoritas rukyat masing-masing (ikhtilaf al-mathali’), sehingga perbedaan tanggal antara negara atau kawasan dimungkinkan secara syariat.

Penetapan Idul Adha 1447 H

Untuk penetapan Idul adha 1447 H, data astronomi menunjukkan bahwa ijtimak terjadi pada Ahad, 17 Mei 2026 sekitar pukul 03.00 WIB. Pada saat matahari terbenam, posisi hilal diperkirakan telah berada lebih dari enam derajat di atas ufuk sehingga secara astronomis memenuhi kriteria imkanur rukyat maupun wujudul hilal. Dengan dasar tersebut, besar kemungkinan 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Maka wukuf di Arafah diperkirakan berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026 dan Iduladha jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.

Jika prediksi astronomi ini diterima secara luas, peluang terjadinya kesamaan penetapan Iduladha secara nasional relatif besar. Namun demikian, perbedaan tetap mungkin terjadi karena setiap lembaga dan otoritas keagamaan memiliki metode serta kriteria masing-masing. Yang terpenting dipahami umat adalah bahwa perbedaan tersebut merupakan hasil ijtihad dalam koridor Al-Qur’an dan Sunnah, bukan bentuk penyimpangan agama. Oleh sebab itu, semangat persatuan, saling menghormati, dan menjaga ukhuwah Islamiyah harus tetap menjadi prioritas utama di tengah kemungkinan perbedaan penetapan hari raya.

 

SHARE :

Informasi

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274