info@umsb.ac.id (0751) 482274

Brigjen (Purn) dr. Agusni, Tokoh Hebat Dari Luhak Agam

Oleh: Humas UM Sumbar   |   Jumat,14 Oktober 2022 09:01:00
Dibaca: 127 kali

Humas UM Sumatera Barat - Brigjen (Purn) dr. Agusni, SpKK merupakan seorang dokter militer yang pernah menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Tentara (RST) Cimahi. Selain dikenal sebagai Kepala RST, Agusni juga berperan penting dalam menanggulangi wabah penyakit pes yang pernah menjangkiti masyarakat Wonogiri, Jawa Tengah. Dia merupakan segelintir orang Indonesia yang menimba ilmu kedokteran di sekolah kedokteran Belanda di Surabaya.

Agusni dilahirkan tahun 1918 di Tanjuang Alam, Nagari Biaro Gadang, Ampek Angkek, Agam. Dia merupakan anak pasangan Bani (Suku Koto Ateh) dengan Tamin St Pamuncak yang berasal dari Aia Tabik, Ampang Gadang. Ayahnya adalah Kepala Stasiun Kereta Api Bukittinggi di zaman Belanda yang merupakan jabatan penting pada masa itu.

Usai menamatkan Pendidikan menengah di Bukittinggi, pemuda Agusni berangkat ke Surabaya tahun 1936 setelah diterima sebagai mahasiswa sekolah kedokteran Belanda “NIAS” dan tinggal di kota itu sebagai anak kos.

Kegemarannya membaca buku sangat membantu Agusni dalam belajar karena harus membaca buku ajar yang ditulis dalam bahasa Belanda, Inggris dan Jerman. Di dalam buku peringatan Lustrum NIAS tahun 1938, nama Agusni tercantum sebagai mahasiswa tahun ke-4.  Lustrum NIAS dan STOVIT di tahun itu merupakan peringatan penting yang dihadiri oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van der Plas.

Setelah Jepang datang di Surabaya tahun 1942, kampus kedokteran NIAS ditutup dan dosen yang warga negara Belanda semua ditangkap, dijebloskan ke interniran. Saat itu banyak mahasiswa kedokteran NIAS yang kebingungan, akhirnya memutuskan pulang kampung, termasuk Agusni yang saat itu sudah mencapai tingkat co-schaap.

Titik terang muncul di awal 1943 dengan dibukanya perguruan tinggi jurusan kedokteran oleh Pemerintah Pendudukan Jepang yaitu “Jakarta Ika Daigaku”. Saat itu tenaga dokter untuk kesehatan tentara Jepang sangat kurang, sehingga adanya sekolah dokter sangat diperlukan. Akhirnya semua mahasiswa kedokteran yang belum selesai dari seluruh Indonesia bisa meneruskan kuliahnya di Jakarta.

Bersama-sama dengan para mahasiswa eks-NIAS Surabaya, Agusni meneruskan kuliahnya sebagai mahasiswa Ika Daigaku. Ternyata di Jakarta mereka tidak hanya kuliah dan praktek, melainkan harus ikut latihan berbaris dan memegang senjata. Cukup berat bagi para mahasiswa, namun di sinilah mereka digembleng menjadi pemuda yang disiplin dan cinta tanah air.

Di satu sisi, tentara Jepang adalah penjajah yang kejam, namun di sisi lainnya mereka telah membangunkan kesadaran bahwa kita adalah bangsa Asia yang berani melawan setiap penjajahan oleh bangsa lain. Disiplin ala militer Jepang mulai diajarkan kepada anak-anak dan para pemuda diberi tanggung jawab bela negara.

Pendidikan kedokteran di “Jakarta Ika Daigaku” diselesaikannya pada akhir tahun 1944 dan Agusni lulus menjadi dokter. Seperti teman-temannya, lulusan dokter Jakarta Ika Daigaku langsung menjadi dokter militer (PETA) dan diberi pangkat perwira sehingga selalu membawa pedang Katana. Tugas pertama adalah menjadi dokter tentara PETA di Jogja dengan pangkat  tyudantyu (“Schodanchoo” setara dengan perwira).

Pada tahun 1944, dr. Agusni menikah dengan Sari Mangkusasmito, gadis Jawa yang sekaligus adik dari bapak kosnya selama menjadi mahasiswa NIAS di Surabaya. Salah seorang anaknya bernama Prof. Dr. dr. Indropo Agusni.

Setelah tentara Jepang meninggalkan bumi Nusantara, selanjutnya para dokter pun ikut dalam perang gerilya melawan Belanda pada awal kemerdekaan. Sebagai salah satu dokter dari pasukan gerilya di bawah pemimpin Brigjen Gatot Subroto, dan Kepala Staf AD TKR Mayor Jenderal Urip Sumohardjo, dr. Agusni bertugas di daerah Solo dan Wonogiri.

Pada bulan September 1947, dia mendapat tugas melakukan pengobatan, dan pelaksanaan pemetaan sekaligus memberikan pertolongan pertama saat wabah pes menyerang wilayah Wonogiri. Bersama dr. Sumedi yang secara sukarela membantu dalam pelaksanaan tugas membantu kesehatan masyarakat. Kondisi saat itu cukup berat karena hampir seluruh desa di daerah Wonogiri diserang penyakit pes. Tercatat 10-15 orang meninggal dunia setiap harinya, bahkan di Desa Manjaran sudah 130 orang meninggal saat itu.

Pada tahun 1949, dr. Agusni yang saat itu sudah berpangkat Letnan Kolonel AD dipindahtugaskan dari Solo ke Cimahi untuk menerima pengalihan RST Cimahi dari KNIL ke TNI. Bersama dr. Raden Kornel Singawinata yang kemudian menjadi Kepala RST tersebut yang berada di bawah Jawatan Kesehatan Tentara Angkatan Darat Territorium III. Di RST ini, dr. Agusni ditugaskan sebagai Kepala Bagian Pendidikan Sekolah Perawat.

Tahun 1954, dr. Agusni diangkat menjadi Kepala RST Cimahi dan mendapat tugas tambahan sebagai dokter garnizoen KMKB Bandung. Sejak saat itu, dr. Agusni bekerja sebagai dokter militer AD yang bernaung di Divisi Siliwangi. Hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan di RST Divisi III itu. RST ini kemudian hari diberi nama Rumah Sakit Dustira. Dr. Agusni bekerja pada bagian kulit dan kelamin atau “Hui den geslagziekten Consultant/HC”.

Pada tahun 1956, dr. Agusni mendapat tugas belajar ke Amerika Serikat memperdalam Venereology (penyakit kelamin) yang banyak menjangkiti para serdadu yang dikirim ke medan perang. Pada tahun 1971, dia diangkat sebagai Perwira Kesehatan Daerah Militer (Pakesdam) VI Siliwangi dengan pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) dan setelah menjalani kuliah di Seskoad.

Agusni wafat di RS Dustira Cimahi tahun 1995 dan dimakamkan secara militer di Pemakaman Umum Cibarunai, Bandung. Sebelum wafat dia berpesan untuk tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan melainkan di Pemakaman Umum Cibarunai di Bandung karena banyak koleganya yang juga alumni NIAS dimakamkan di sana

(EYB).

SHARE :

KONTAK

Alamat

Jln. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah, Padang,25172

Email

info@umsb.ac.id

Telp

(0751) 482274